Thursday, November 26, 2009

Jewish Friends of Mine

My first eye opener was Yehuda Shaul with his breaking the silence. I was so amazed by him.
I wrote about it on my facebook, wondering what the comments would be. That was before the Gaza. Turned out I was not the only one. Some of us did think beyond that old tired line "jews are our enemy".

And I wrote more and more about 'friendly jews'. I found more and more people, regardless their religion, were true friends of Palestine. More than us, muslim people.

So I was so glad to read this article, on Jakarta Post.

We should learn more about each other. And put aside some old dogma and prejudice. Cause deep down inside, we are all the same.

Sunday, November 22, 2009

Little Things, Always the Little Things.

Mark Twain said "Remember the poor, it costs nothing".

Apa sih, definisi "poor"? Miskin?
Hidup dibawah 1 $? Di bawah 2 $?
Tidak punya rumah? Tidak punya pekerjaan?
Hopeless? Homeless?

Jangan salah.
Ada yang merasa 'miskin' itu karena tidak punya mobil mewah.
Ada yang merasa 'miskin' ketika ngga bisa beli blackberry terbaru.
Ada yang merasa miskin karena ngga beli baju bermerek di mal.
Ada yang merasa miskin karena ngga dapet keistimewaan dan kemudahan yang dimiliki para pejabat dan orang 'hebat'.

Miskin karena selalu merasa kekurangan.

Tapi lupakanlah miskin yang itu, balik ke miskin yang ada di berita akhir-akhir ini.

Seorang nenek dipenjara karena 'memungut' 3 biji buah kakao.
Seorang kakek dipukul dan diseret karena menentang penggusuran.
Seorang PSK dibiarkan tenggelam di kali ketika sedang dikejar-kejar.
Aku yakin kalo digoogle maka akan panjang sekali daftarnya...

Dan tulisan kali ini bukanlah ingin membahas dari sudut hukumnya bla bla bla, karena sudah mahfum sekali bahwa hukum itu bukanlah keadilan. Law is not justice. It never is.
Tapi ingin bertanya pada sendiri, have I remembered enough.
Lebih lagi, have I done enough.

Seorang sahabat berkata,
"Dee, lahir-belajar jalan ngomong-tk-sd-smp-sma-kuliah-kerja-nikah-punya anak-memastikan anak mengikuti hal2 tersebut-mati adalah, devil cycle. I dont know where's thing 'so-called' life on that cycle"

Aku bilang, dia harus mengalami semuanya dulu baru bisa tau.

Dan dijawab,
"No i dont have to. Just by thinking about what our country had become. Its a sad fact that there's actually only few people give it a damn, because they been trapped on their own tired old line. There's no time to think about others. Let alone the nation. Busy to save their own asses, and they dont even realize that's what's happened. Its a false joy"

There. My life is a false joy.
And we're just some kinda robot.
How nice.
Just perfect for this gloomy cloudy november days.

Tapi tentu saja, ini harusnya suatu kritik membangun.
I'm still searching the constructive part.

Kritik membangunnya mungkin adalah bagaimana kita bertanya pada diri sendiri, "Apa yang salah dari komunitas kita? masyarakat kita? negara kita? Is it the custom? The education system? What?"
Jika belum terjawab, masih ada pertanyaan selanjutnya yang menunggu, "Apa solusinya?"

Aku selalu berpikir, sesuatu dimulai dari hal terkecil. Dari diri sendiri. Satu demi satu.
Klise.
Tapi sesuatu itu klise mungkin karena itu memang benar.
And yea, I haven't done enough. I'm crawling.

So, when my simple so-called life, with my simple kinda family, seems not enough..well, I cannot blame my idealistic sarcastic friend. We can always agree to disagree, right?
Just don't expect me to stop believing that maybe we, stupid silly nerdy simple people, can actually make a difference. By doing little things.

2 simple things to remember and share with dynamic duo (again):
1. Simpen krincing kita
2. Pisahin dan kurangi sampah dengan ngubur sampah dapur.

Last but never least...listen to your children. Respect them. So they'll listen and respect others.
Do you realize that your children spend less than 20 years with us, then go on to spend another 60 years, 70 years, 80 or maybe even more on this planet. What goes on in our home with them today seems so small it hardly even matters in the grand scheme of things. Yet what we do in our home can affect society for many years to come.

Itu salah satu solusiku, mate, ketika kamu nanya apa nanti Damar Dimas sempet mikirin negaranya.

Bertanya pada Damar the jegrag and Dimas the jambul.
Ketika mereka pengen roti tawar instead of nasi buat makan siang, aku bukan bilang, "Harus makan nasi! Mamah udah capek-capek masak! Arrgghh! Grrrr! Aum!" and so on.
Tapi aku bertanya, "kenapa ngga mau makan nasi?" dan dijawab Damar, "nanti mah, abis makan roti."

Pertanyaan. Jawaban.
Pilihan. Konsekuensi.

Semoga dengan memberikan mereka pertanyaan dan pilihan, someday when they're older, mereka bisa menentukan pilihan yang terbaik bukan cuman untuk diri mereka sendiri tapi juga lingkungan di sekitar mereka. Semoga mereka, entah itu mengikuti 'that tired old line' atau sebaliknya menjadi biksu selibat yang mengabdikan diri untuk menyelamatkan dunia, menjadi manusia yang bermanfaat.

This stupid simple me is still learning, for God sake!


(www.art.com)

Tuesday, November 17, 2009

The Beating of A Single Heart

I felt quite aweful aweful this morning.
A perfect combination of fatigue, lack of sleep and lack of gratitude.
Then I watched this video.

From commondreams



The Beating of A Single Heart
by Jonathan Mann

You hear it everyday
sometimes in the subtlest ways
sometimes it's in your face
But nonetheless it's there
"Go back to where you came from"
"They're taking all our jobs"
"They shoul learn to speak English"
"They are lazy, foreign slobs"

It is fear
that can sonsume you
Fear
will make you close your eyes.
But it is love
that can bloom you
let you open up to the sun and realize

We're all the same
underneath our skin
same beating hearts
same blood within

And in the future
as we embrace
We'll feel the beating of a single heart
of the human race.

We're told it's not enough
to consume more than our weight in stuff
when things are getting rough
we oughta buy more

Make it! Pack it! Ship it!
Buy it! Use it! Toss it!

Afterall, isn't that what we're made for?
With no regard
for the impact
our tireless consumption has

from all the beef
to the big smoke stacks
We're messing up the only home we have

Put down your wallet
and go outside
March around
get wide eyed

Cause in the future
We'll take care of this place
And the beating of a single heart
of the human race.

We've heard it all before
there has always been war
From the chimpanzee's roar
and the rocks he hurled

But we must evolve
to find another way to solve
all the disagreements in this world
Well it won't be simple
Nothing ever is
But in that complexity is grace.

Cause in the future
bound by respect
We'll feel the beating heart of a human race.


Thanks Jonathan Mann! It really brightened up my day.

Tuesday, November 10, 2009

Buaya dan Komodo

Siapa lagi yang bisa dipercaya?
My poor country...

The latest update of criminalization of KPK, the Jakarta Pos

The police and those devil's advocates, those corruptors...I cannot hate those people more.

Negeri Para Bedebah
Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
by Adhie Massardi

Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor menjatuhkan bebatuan menyala-nyala
Tahukah kamu ciri-ciri negara para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dan mengais sampah
Atau menjadi kuli di negeri orang
Yang upahnya serapah dan bogem mentah
Di negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedangkan rakyatnya hanya bisa pasrah
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah apa suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnya
Maka bila melihat negeri dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi, dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan.

Saturday, October 31, 2009

I've been away from internet for quite some time. And it's been quite uncomfortable here since we're lack of water and electricity. But hey, who am I to complain?? ^^
Me and my family, we're still consider ourselves as the luckiest person on earth no matter what. We have a place to stay, jobs to be done, food on the table, back and front yard to burry our kitchen scrap, books to read, people to love and plenty of sunshine and breezy wind.

Little small things that make our world goes round.

A little upset for the update of Ezra Nawi in Tikun Olam...Bless you, Ezra...
But this one is a good news, from mondoweiss.

When humanity goes beyond religions and politics.

Friday, October 9, 2009

We Want Peace



Kravitz recorded the anti-war song "We Want Peace" as the US began invading Iraq. The song was performed with musicians from Iraq (Kadim Al Sahir), Palestine (Simon Shaheen), and Lebanon (Jamey Hadded).

Here is once again in our face
Why haven't we learn from our past
We're at the crossroads of our human race
Why are we kicking our own ass

A Not So Desperate Mommie

Ada perang besar akhir-akhir ini.
Antara Dimas dan the rest of pasukan D (plus mbak yuk).

Dimas Arga Nurtsany, jagoan kecil berambut ikal tipis itu sedang memasuki tahap pemberontakan. Ngga diajak jalan, nangis. Diajak jalan, nangis.
Dimasakin ikan, nangis. Dimasakin ayam, juga nangis.
Disuruh jangan nangis, tetep nangis. Disuruh nangis terus, tambah nangis.

I was wondering whether to collect his tears since the lack of water here.

Pagi ini, aku nyepeda ke warung untuk beli beras. Langit Balikpapan tidak seperti hari-hari sebelumnya, biru tanpa awan. A good day to eat ice cream with the space cadets. Jadi akhirnya pindahlah satu es krim coklat dan satu es krim strawberi ke tas belanjaan. Sampai di rumah es krim coklat langsung lenyap dimakan dimas yang memang sudah sebulan dilarang makan es krim karena batuk. Dan mulailah perang baru, on how to invade and occupy his brother ice cream.
Ketidakadilan itu kulawan dengan niat, kata-kata dan tindakan. Tindakan maksudnya time out di teras belakang.
Dan berakhir dengan tangisan disana-sini.
But, as usual, this time justice prevails.
Es krim Damar terselamatkan.

Key word is konsisten.
Dan non-violence. Ku-bold karena aku masih sering sekali harus berjuang sekuat tenaga menahan godaan untuk mencubit atau membentak. Saat-saat ketika anak 2 dan 5 tahun membuatmu merasa seperti anak 5 taun juga. Sama-sama ingin ngeyel, sama-sama ingin marah, sama-sama ingin mewek.

"Dimas, mamah ngga mau dipukul!"
"Imas mau mukul!"
"Mamah ngga mau!"
"Imas mau!"
"Ngga!"
"Mau!"

and so on...

Remember Gandhi said?
"I first learned the concepts of non-violence in my marriage."

A reminder for myself :
Bagaimana kita mengajarkan konsep non-violence ke anak-anak jika sebagai orangtua kita ngga bisa mencontohkan hal itu?
Satu cara jitu untuk menekan amarah adalah memposisikan diri kita di mata anak-anak. Apa yang dia liat di diri kita ketika pukulan, cubitan atau bentakan siap berterbangan?
Gabungan antara medusa, sadako dan dewi persik?

So, please, please...Gusti paringana sabar, paringana eling, sluman,slumun slamet donya akherat.

Children seldom misquote you. In fact, they usually repeat word for word what you shouldn't have said. -Anonymous



It's just another Friday.
I hope it'll be a good friday for everyone, including everyone in government (semoga tikus-tikus berkurang, I get sick reading the same news and watching the same face everyday), Padang, Kenya (I saw the malnutrition problem there in aljazeera yesterday), Jerusalem, Gaza, and in every corner of the world.

We'll be doing gardening and learning to do backyard composting tomorrow.

Thursday, October 8, 2009

Al-Aqsa Sanctuary: The Palestinian Spirit

Al-Aqsa Sanctuary: The Palestinian Spirit
by Simone Daud

The future

Though I am entirely secular and ethnically Galilean Christian from the villages surrounding Nazareth, I hope that the day will come when the wall and tanks fencing us into our camps fall. I hope that our tragedy ends. I hope for the day when the indigenous people of Palestine, weak and landless herded into crowded camps, will be able to freely pray in al-Aqsa temple. Free from brutality, and free to quench their spiritual thirst in the Muslim compound. Free to pray in what we call Beit al-Maqdas, the Muslim Holy of Holies.

We are not beasts to be herded through checkpoints, we are not vermin to access our temple through Clinton's tunnels, the walls surrounding our prison's will fall.

Let my people pray, bring down the wall in Palestine.

al-athan call for prayer



For many centuries the call for prayer has emanated from al-Aqsa menanrates. For centuries the call has dominated the winds of Jerusalem. The Palestinians being weak without facilities to effectively resist see in the morning athan call for prayer a defiance. We shall one day be treated with dignity. We are human.

A third intifada?
Perhaps that's exactly what the occupier wants.

Friday, September 25, 2009

Aku Tidak Tahu

MONO
oleh Gunawan Muhammad

Pada suatu hari di abad ke-7, dua orang Madinah bertengkar. Yang satu Muslim dan yang satu lagi Yahudi. Yang pertama mengunggulkan Muhammad SAW ”atas sekalian alam”. Yang kedua mengunggulkan Musa. Tak sabar, orang Muslim itu menjotos muka Si Yahudi.

Orang Yahudi itu pun datang mengadu ke Nabi Muhammad, yang memimpin kehidupan kota itu. Ia ceritakan apa yang terjadi. Maka Rasulullah pun memanggil Si Muslim dan berkata:

”Janganlah kau unggulkan aku atas Musa. Sebab di hari kiamat semua umat jatuh pingsan, dan aku pun jatuh pingsan bersama mereka. Dan akulah yang pertama bangkit dan sadar, tiba-tiba aku lihat Musa sudah berdiri di sisi Singgasana. Aku tidak tahu, apakah ia tadinya juga jatuh pingsan lalu bangkit sadar sebelumku, ataukah dia adalah orang yang dikecualikan Allah”.

Riwayat ini dikutip dari Shahih Muslim, Bab Min Fadla’il Musa. Dalam buku Abd. Moqsith Ghazali yang terbit pekan lalu, Argumen Pluralisme Agama, hadis itu dituturkan kembali sebagai salah satu contoh pandangan Islam tentang agama yang bukan Islam, khususnya Yahudi dan Kristen.

Pada intinya, Moqsith, sosok tenang dan alim yang mengajar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini, datang dengan pendirian yang kukuh: Islam adalah ”sambungan—bukan musuh—dari agama para nabi sebelumnya”, yang sering disebut sebagai agama-agama Ibrahimi.

Tapi yang bagi saya menarik adalah kata-kata Muhammad SAW yang dikutip di sana: ”Janganlah kau unggulkan aku atas Musa”, dan, ”aku tidak tahu…”.

Kini kata-kata itu tenggelam. Kini sebagian ulama merasa di atas Rasulullah: mereka merasa tahu keunggulan diri mereka. Mereka akan membenarkan Si Muslim yang memukul Si Yahudi. Mereka bahkan mendukung aniaya terhadap orang yang ”menyimpang”, walaupun orang lain itu, misalnya umat Ahmadiyah, membaca syahadat Islam.

Dari mana datangnya kekerasan itu?

Saya sering bingung. Satu kalimat suci terkadang bisa membuat orang jadi lembut, tapi satu kalimat lain dari sumber yang sama bisa menghalalkan pembunuhan.

Mungkin pada mulanya bukanlah agama. Agama, seperti banyak hal lain, terbangun dalam ambiguitas. Dengan perut dan tangan, ambiguitas itu diselesaikan. Tafsir pun lahir, dan kitab-kitab suci berubah peran, ketika manusia mengubah kehidupannya. Yang suci diputuskan dari bumi. Pada mulanya bukanlah Sabda, melainkan Laku.

Tapi juga benar, Sabda punya kesaktiannya sendiri setelah jadi suci; ia bisa jadi awal sebuah laku. Kekerasan tak meledak di sembarang kaum yang sedang mengubah sejarah. Ia lebih sering terjadi dalam sejarah Yahudi, Kristen, dan Islam: sejarah kepercayaan yang berpegang pada Sabda yang tertulis. Pada gilirannya kata-kata yang direkam beku dalam aksara itu menghendaki kesatuan tafsir.

Kesatuan: jangan-jangan mala itu datang dari angka ”satu”—dan kita harus bebas dari the logic of the One.

Kata ini dipakai Laurel C. Schneider dalam Beyond Monotheism. Pakar theologi itu menuding: ”Oneness, as a basic claim about God, simply does not make sense.” Dunia sesungguhnya melampaui ke-satu-an dan totalitas.

Schneider menganjurkan iman berangkat ke dalam ”multiplisitas”—yang tak sama artinya dengan ”banyak”. Kata itu, menurut dia, mencoba menamai cara melihat yang luwes, mampu menerima yang tak terduga tak berhingga.

Tapi Schneider, teguh dalam tradisi Ibrahimi, menegaskan ”multiplisitas” itu tak melenyapkan yang Tunggal. Yang Satu tak hilang dalam multiplisitas, hanya ambyar sebagaimana bintang jatuh tapi sebenarnya bukan jatuh melainkan berubah dalam perjalanan benda-benda planeter.

Dengan kata lain, tetap ada ke-tunggal-an yang membayangi tafsir kita. Bagaimana kalau terbit intoleransi monotheisme kembali?

Saya ingat satu bagian dalam novel Ayu Utami, Bilangan Fu. Ada sebuah catatan pendek dari tokoh Parang Jati yang bertanya: ”Kenapa monotheisme begitu tidak tahan pada perbedaan?” Dengan kata lain, ”anti-liyan”?

Pertanyaan itu dijawab di catatan itu juga: sikap ”anti-liyan” itu berpangkal pada ”bilangan yang dijadikan metafora bagi inti falsafah masing-masing”. Monotheisme menekankan bilangan ”satu”. Agama lain di Asia bertolak dari ke­tiadaan, kekosongan, sunyi, shunyat, shunya, sekaligus keutuhan. ”Konsep ini ada pada bilangan nol,” kata Parang Jati.

Bagi Parang Jati, agama Yahudi, pemula tradisi monotheisme, tak mampu menafsirkan Tuhan sebagai Ia yang terungkap dalam shunya, sebab monotheisme ”dirumuskan sebelum bilangan nol dirumuskan”.

Ada kesan Parang Jati merindukan kembali angka nol, namun ia tak begitu jelas menunjukkan, di mana dan bila kesalahan dimulai. Ia mengatakan, setelah bilangan nol ditemukan, manusia pun kehilangan kualitas yang ”puitis”, ”metaforis” dan ”spiritual” dalam menafsirkan firman Tuhan. ”Ketika nol belum ditemukan,” tulis Parang Jati, ”sesungguhnya bilangan tidaklah hanya matematis.”

Dengan kata lain, mala terjadi bukan karena angka satu, melainkan karena ditemukannya nol. Tapi Parang Jati juga menunjukkan, persoalan timbul bukan karena penemuan nol, melainkan ketika dan karena ”shunya menjadi bilangan nol”.

Salahkah berpikir tentang Tuhan sebagai nol? Salahkah dengan memakai ”the logic of the One”?

Di sebuah pertemuan di Surabaya beberapa bulan yang lalu saya dapat jawab yang mencerahkan. Tokoh Buddhisme Indonesia, Badhe Dammasubho, menunjukkan bahwa kata ”esa” dalam asas ”Ketuhanan yang Maha Esa” bukan sama dengan ”eka” yang berarti ”satu”. Esa berasal dari bahasa Pali, bahasa yang dipakai kitab-kitab Buddhisme. Artinya sama dengan ”nirbana”.

Setahu saya, ”nirbana” berarti ”tiada”. Bagi Tuhan, ada atau tak ada bukanlah persoalannya. Ia melampaui ”ada”, tak harus ”ada”, dan kita, mengikuti kata-kata Rasulullah, ”aku tidak tahu”.


~Majalah Tempo Edisi 02 Maret 2009~

Agama seharusnya menjadi sumber kedamaian di muka bumi. Kita, si manusia lah, yang menciptakan siklus kebencian.

Thursday, September 24, 2009

Links of the Day

What do you think?
From bendib. Thanks Fatemah for the link.



Hate Thy Neighbour
Thanks for the interesting post, MERC. Liam Bartlett from Channel 9 on 60 minutes blog,
Trying to understand the Middle East peace process is a bit like attempting to unscramble an egg so we travelled to Israel to get a first-hand look at just how hard it might be to even begin a so-called 'road map to peace'.
t might be to even begin a so-called 'road map to peace'.

At the very heart of the problem are the Jewish settlers, now occupying large tracts of land that the Palestinians say are really theirs. The settlers are essentially squatting on whatever piece they choose and constructing houses and towns in a defiant gesture of "now that I'm here – it's all mine".



from bendib

French Police Clear Migrant 'Jungle', Arrest 278

But Immigration Minister Eric Besson said action had to be taken against migrant trafficking rings. "What I want is to dismantle this 'jungle', which is the operating base for human traffickers," Besson told RTL radio.
Activists opposed the raid however. "It's a scandal," said Jean-Claude Lenoir of the Salam migrant support group. "We can't have soldiers fighting in Afghanistan and treat Afghans seeking refuge here with such little dignity."


Anti Corruption Songs by Slank
You know what I hate more than terrorism? Corruption! A Lot, a lot of corruption! Try to live in this country and you'll find them everywhere. Sometime I think I have no respect left for my own government. Indonesia regularly appears on lists of the most corrupt countries in the world, and in the most recent global corruption survey by Transparency International, Indonesia scored a 2.6, with 10 being the cleanest rating.

The situation looks grim now, since the KPK (The Corruption Eradication Commission)chairmen have been named as suspects by police.
Here's the update.

On going battle between KPK and the police
Q+A-Indonesia's corruption court bill

Korupsi membunuh bangsa...Corruption kills.


Photo from tbelfield.wordpress.com