Saturday, December 5, 2009

Question of The Day

Pernahkan kamu membaca quote ini,
Children find everything in nothing; men find nothing in everything.

Penulisnya adalah Giacomo Leopardi, seorang penyair dan filsuf Italia yang hidup pada tahun 1798-1837.

Ingatkah kita masa-masa kecil ketika hari dimulai dengan pertanyaan dan diakhiri dengan pertanyaan? Aku ingat pernah berpikir bahwa di salah satu bintang di atas sana ada seorang anak perempuan kecil yang sedang menatap ke bumi. Aku ngga ingat apakah pernah benar-benar bertanya pada orang lain.

Atau ketika saat ini kita cukup diberkahi untuk memiliki manusia-manusia kecil dengan tenaga kryptonit tak kenal lelah yang tak berhenti bergerak dan berbunyi, sempatkah kita berhenti sejenak merenungkan pertanyaan mereka?

"Mah, kenapa laba-labanya terbang?" ketika melihat laba-laba turun naik di dekat kasur mereka, tanpa terlihat benangnya.

"Kenapa kita ngga punya christmas tree?" sewaktu melihat pohon natal plastik di mal.

"Kenapa sampah dapur dikubur?" saat melihat rutinitas menggali-gali mamahnya.

Jadi teringat suatu siang waktu aku dan anak-anak nonton KBS, channel Korea, tentang multikultural family. Si istri berasal dari Bali dan tinggal di Korea Selatan mengikuti suaminya yang asli sana. Suatu saat berliburlah mereka ke Bali. Waktu ada adegan keluarga itu mengejar-ngejar babi untuk di-babi guling, anak-anak takjub. "Kasian!", kata Dimas waktu si babi diiket di tongkat.
Kemudian sampai ke adegan ketika si babi sudah matang kecoklatan dan mulai diiris-iris untuk dimakan bersama.
Tiba-tiba Dimas bilang, "Mamah, mau makan ituuu!!!", sambil nunjuk ke tipi.

That was an awesome moment.

"Kenapa ngga boleh?"

Ketika kita menghadapi pertanyaan-pertanyaan ajaib seperti itu, sebagai orangtua, dan manusia, kita diajak membuka kembali cakrawala pikiran kita. Dan keyakinan kita. Kita kembali dipertemukan dengan keraguan-keraguan yang dulu sebagai seorang anak kecil pernah kita rasakan.

Jika beruntung, kita akan bertemu dengan pertanyaan yang bahkan kita sendiripun masih mencari jawabannya. Bukan cuma pertanyaan kenapa adek bayi ada atau gimana tivi ada gambarnya..those are some pretty challenging questions too >.<

Tapi seperti ketika Sam, 11 tahun, di Ways to Live Forever (versi Indonesianya berjudul Setelah Aku Pergi, terbitan Gramedia) mempertanyakan Pertanyaan-Pertanyaan Tak Terjawab, The Questions That Nobody Answer, No. 6. "Kenapa sih orang mesti mati?"

Why Do We Have To Die Anyway?

Atau pertanyaan nomor dua, yang dicoba dijawab oleh Sam dan temannya Felix.

Questions Nobody Answers No.2, Why does God make kids get ill?
[proposed solutions]
1.He doesn’t exist. (Felix)
2.God is really evil. (Felix)
3.God is like a big doctor. It doesn’t matter to God if you die, because you just go to heaven, which is where He lives anyway.(Sam, to which Felix responds, “That is the biggest load of crap I ever heard. God gives you cancer to teach you how good riding a bike is?)
4.There is no reason. (Felix)
5.There is a reason, but we’re too stupid to understand it. (Sam)
6.We did something awful in the past life and this is punishment. (Felix, who insisted it be included as not to discriminate against Buddhists)
7.We’re perfect already. Being ill is like a present. Like...like a Get-Into-Heaven-Free Card. (Sam)


At the end of the day, nenek Sam menjelaskan bahwa kematian adalah seperti berubahnya ulat menjadi kupu-kupu. Bagaimana ulat merasa takut menjadi kepompong yang tertidur dan sendiri.

Menurut Sam,

What she means is, it’s the next stage in a life cycle. Like turning into Spider-Man was the next stage in Peter Parker’s life cycle. So you shouldn’t be frightened, you should be excited. But I’m not frightened anyway. It’s only going back to wherever you were before you were born and no one is frightened of before they were born.


All those quoestions.

Pertanyaan-pertanyaan 'aneh' yang ketika kita beranjak dewasa mungkin masih akan muncul di saat-saat yang sepi. Ketika menatap langit-langit kamar menjelang terpejam. Ketika menengadah ke bintang di langit kelam. Ketika terdiam dan menghela nafas panjang.

I really didn't mean to make some rhyme here. Bad habit -.-'

Tidak semua orang cukup beruntung untuk mempunyai tempat bertanya. Terutama pertanyaan-pertanyaan ajaib yang mengerutkan kening 99.99% orang yang mendengarnya. Dan kemudian menyarankanmu ke ustad atau ke psikiater dengan wajah khawatir.

We were often told not to ask anyway, when we were younger.

Jadi,
ketika manusia-manusia kecil itu bertanya, dengarkan dengan sepenuh hati. Semoga mereka mengantarmu ke jawaban dari keraguanmu sendiri.

"Kenapa kamu menikah?"
"Kenapa kamu punya anak?"
"Kenapa kamu beribadah atau tidak beribadah?"
"Kenapa kamu menangis atau tertawa?"
"Kenapa kamu mencintai atau membenci?"

"Untuk apa kamu hidup?"

Maybe I will make my own questions nobody answer one of these days.

Where am I? Who am I?
How did I come to be here?
What is this thing called the world?
How did I come into the world?
Why was I not consulted?
And If I am compelled to take part in it,
Where is the director?
I want to see him
~ Soren Kierkegaard

2 comments:

Annisa K. said...

nin, gue binun bacanya, berharap ada jawaban but spertinya jawaban itu memang tgantung dari orang yang menjawab yah and its personal?... hiks.. nice writing though..

nina said...

kadang aku mikir, aku sebaiknya ngga bertanya. karena the more you eonder why the worse it seems to get. tapi kita berpikir maka kita ada kan?
jadi bismillah, semoga bertanya tidak membuat kita berdosa..