Showing posts with label Damar and Dimas. Show all posts
Showing posts with label Damar and Dimas. Show all posts

Friday, December 25, 2009

D for Damar, D for Dimas

Facts about Dam and Dim.

Damar adalah si early bird, atau early worm, orang yang bangun paling pagi dan langsung nyanyi-nyanyi keliling rumah. Tapi kalo dah capek dan kena bantal langsung pingsan.
Dimas adalah si gudel (anak sapi-dee), karena kalo tidur ngebo. Udah dibolak-balik, digendong keluar kamar, dinyalain kartun kenceng-kenceng, ditimbun bantal, dikitik-kitik, diuyel-uyel, dicubit-cubit...semua
kecuali disiram air, ngga bakal bangun. Pantesan pipi Dimas ngga kempes-kempes. Rekor bangun pagi jam 11 siang.

Damar suka nyanyi dan joged. Panggilannya di sekolah? Jacko. Sekarang lagi suka nyanyi jingle bells dan paling suka berbahasa indonesia yang baik dan benar. "Mamah, aku sangat kecewa." atau "Aku mau mengambil spidol untuk menggambar tetapi spidolnya terlalu tinggi aku tak bisa menggambilnya."

Dimas suka maen sepak bola dan lompat timbun. Lompat timbun itu lompat dari kasur atas ke kasur bawah, sebelum lompat ngambil ancang-ancang sambil mbaca mantra, "lima tujuh lima tujuh...", maksudnya mau ngitung satu dua tiga tapi versi dimas. Last step, lompat jauh sambil teriak, "TIMBUUUNNN!!!" Malanglah orang yang kebetulan lagi di kasur bawah. Ketimbun 14 kg pipi dan lemak.
Si Park Dimas Sung ini kalo maen bola ancang-ancang larinya bisa sampe 50 meter. Kalo lari kayak ada per di kaki.

Damar lagi ribut minta pohon natal. Karena ngga dikasih ganti pengen menghias pohon cemara kecil di halaman depan rumah.
Dimas lagi heboh minta ulang taun, soalnya dijanjiiin baru dibeliin maenan lagi kalo ulang taun. Next month.

Damar rambutnya lurus jegrak. Kalo disuruh potong rambut mirip disuruh nyemplung sumur.
Dimas kriwil-kriwil. Kalo lagi keringatan kepalanya jadi mirip rambutan.

Damar bisa diminta matiin tipi, dengan catatan sudah dibilangin sebelumnya, "setengah jam lagi matiin ya" atau "habis little einstein matiin ya".
Dimas harus pake sesi nangis, rebutan remote, kejar-kejaran, dan terakhir saking malesnya pindah dia ngompol di kasur di depan tipi. Padahal aku dah ngga inget kapan dia ngompol di kasur. Wew. Red Alert.

Damar lagi seneng bikin kue, nyetak dan ngasih hiasan. Yang paling nyenengin, dia suka makannya juga.
Dimas...yaahh, masih tahap ngremes-remes adonan sambil ditambahin eces disana-sini.

Damar suka susu strawberry. Dimas susu coklat.
Damar suka es krim conetto mini rasa blueberry. Dimas suka rasa strawberry. Mamahnya suka dua-duanya.

They're both the same, but they're not.
They're both D, but as different as A and Z.
Their hugs are the best cure for a weary heart and a wandering mind.
They keep me connected and disconnected.
They're my Planetaia, my wandering stars.
They teach new things and new point of views every single day.
They remind me of the who,what,where,when,why and how.

The best of all, their face never fail to send a sign,
"everything's gonna be okay, mommie, it always is."

Sunday, November 22, 2009

Little Things, Always the Little Things.

Mark Twain said "Remember the poor, it costs nothing".

Apa sih, definisi "poor"? Miskin?
Hidup dibawah 1 $? Di bawah 2 $?
Tidak punya rumah? Tidak punya pekerjaan?
Hopeless? Homeless?

Jangan salah.
Ada yang merasa 'miskin' itu karena tidak punya mobil mewah.
Ada yang merasa 'miskin' ketika ngga bisa beli blackberry terbaru.
Ada yang merasa miskin karena ngga beli baju bermerek di mal.
Ada yang merasa miskin karena ngga dapet keistimewaan dan kemudahan yang dimiliki para pejabat dan orang 'hebat'.

Miskin karena selalu merasa kekurangan.

Tapi lupakanlah miskin yang itu, balik ke miskin yang ada di berita akhir-akhir ini.

Seorang nenek dipenjara karena 'memungut' 3 biji buah kakao.
Seorang kakek dipukul dan diseret karena menentang penggusuran.
Seorang PSK dibiarkan tenggelam di kali ketika sedang dikejar-kejar.
Aku yakin kalo digoogle maka akan panjang sekali daftarnya...

Dan tulisan kali ini bukanlah ingin membahas dari sudut hukumnya bla bla bla, karena sudah mahfum sekali bahwa hukum itu bukanlah keadilan. Law is not justice. It never is.
Tapi ingin bertanya pada sendiri, have I remembered enough.
Lebih lagi, have I done enough.

Seorang sahabat berkata,
"Dee, lahir-belajar jalan ngomong-tk-sd-smp-sma-kuliah-kerja-nikah-punya anak-memastikan anak mengikuti hal2 tersebut-mati adalah, devil cycle. I dont know where's thing 'so-called' life on that cycle"

Aku bilang, dia harus mengalami semuanya dulu baru bisa tau.

Dan dijawab,
"No i dont have to. Just by thinking about what our country had become. Its a sad fact that there's actually only few people give it a damn, because they been trapped on their own tired old line. There's no time to think about others. Let alone the nation. Busy to save their own asses, and they dont even realize that's what's happened. Its a false joy"

There. My life is a false joy.
And we're just some kinda robot.
How nice.
Just perfect for this gloomy cloudy november days.

Tapi tentu saja, ini harusnya suatu kritik membangun.
I'm still searching the constructive part.

Kritik membangunnya mungkin adalah bagaimana kita bertanya pada diri sendiri, "Apa yang salah dari komunitas kita? masyarakat kita? negara kita? Is it the custom? The education system? What?"
Jika belum terjawab, masih ada pertanyaan selanjutnya yang menunggu, "Apa solusinya?"

Aku selalu berpikir, sesuatu dimulai dari hal terkecil. Dari diri sendiri. Satu demi satu.
Klise.
Tapi sesuatu itu klise mungkin karena itu memang benar.
And yea, I haven't done enough. I'm crawling.

So, when my simple so-called life, with my simple kinda family, seems not enough..well, I cannot blame my idealistic sarcastic friend. We can always agree to disagree, right?
Just don't expect me to stop believing that maybe we, stupid silly nerdy simple people, can actually make a difference. By doing little things.

2 simple things to remember and share with dynamic duo (again):
1. Simpen krincing kita
2. Pisahin dan kurangi sampah dengan ngubur sampah dapur.

Last but never least...listen to your children. Respect them. So they'll listen and respect others.
Do you realize that your children spend less than 20 years with us, then go on to spend another 60 years, 70 years, 80 or maybe even more on this planet. What goes on in our home with them today seems so small it hardly even matters in the grand scheme of things. Yet what we do in our home can affect society for many years to come.

Itu salah satu solusiku, mate, ketika kamu nanya apa nanti Damar Dimas sempet mikirin negaranya.

Bertanya pada Damar the jegrag and Dimas the jambul.
Ketika mereka pengen roti tawar instead of nasi buat makan siang, aku bukan bilang, "Harus makan nasi! Mamah udah capek-capek masak! Arrgghh! Grrrr! Aum!" and so on.
Tapi aku bertanya, "kenapa ngga mau makan nasi?" dan dijawab Damar, "nanti mah, abis makan roti."

Pertanyaan. Jawaban.
Pilihan. Konsekuensi.

Semoga dengan memberikan mereka pertanyaan dan pilihan, someday when they're older, mereka bisa menentukan pilihan yang terbaik bukan cuman untuk diri mereka sendiri tapi juga lingkungan di sekitar mereka. Semoga mereka, entah itu mengikuti 'that tired old line' atau sebaliknya menjadi biksu selibat yang mengabdikan diri untuk menyelamatkan dunia, menjadi manusia yang bermanfaat.

This stupid simple me is still learning, for God sake!


(www.art.com)

Friday, October 9, 2009

A Not So Desperate Mommie

Ada perang besar akhir-akhir ini.
Antara Dimas dan the rest of pasukan D (plus mbak yuk).

Dimas Arga Nurtsany, jagoan kecil berambut ikal tipis itu sedang memasuki tahap pemberontakan. Ngga diajak jalan, nangis. Diajak jalan, nangis.
Dimasakin ikan, nangis. Dimasakin ayam, juga nangis.
Disuruh jangan nangis, tetep nangis. Disuruh nangis terus, tambah nangis.

I was wondering whether to collect his tears since the lack of water here.

Pagi ini, aku nyepeda ke warung untuk beli beras. Langit Balikpapan tidak seperti hari-hari sebelumnya, biru tanpa awan. A good day to eat ice cream with the space cadets. Jadi akhirnya pindahlah satu es krim coklat dan satu es krim strawberi ke tas belanjaan. Sampai di rumah es krim coklat langsung lenyap dimakan dimas yang memang sudah sebulan dilarang makan es krim karena batuk. Dan mulailah perang baru, on how to invade and occupy his brother ice cream.
Ketidakadilan itu kulawan dengan niat, kata-kata dan tindakan. Tindakan maksudnya time out di teras belakang.
Dan berakhir dengan tangisan disana-sini.
But, as usual, this time justice prevails.
Es krim Damar terselamatkan.

Key word is konsisten.
Dan non-violence. Ku-bold karena aku masih sering sekali harus berjuang sekuat tenaga menahan godaan untuk mencubit atau membentak. Saat-saat ketika anak 2 dan 5 tahun membuatmu merasa seperti anak 5 taun juga. Sama-sama ingin ngeyel, sama-sama ingin marah, sama-sama ingin mewek.

"Dimas, mamah ngga mau dipukul!"
"Imas mau mukul!"
"Mamah ngga mau!"
"Imas mau!"
"Ngga!"
"Mau!"

and so on...

Remember Gandhi said?
"I first learned the concepts of non-violence in my marriage."

A reminder for myself :
Bagaimana kita mengajarkan konsep non-violence ke anak-anak jika sebagai orangtua kita ngga bisa mencontohkan hal itu?
Satu cara jitu untuk menekan amarah adalah memposisikan diri kita di mata anak-anak. Apa yang dia liat di diri kita ketika pukulan, cubitan atau bentakan siap berterbangan?
Gabungan antara medusa, sadako dan dewi persik?

So, please, please...Gusti paringana sabar, paringana eling, sluman,slumun slamet donya akherat.

Children seldom misquote you. In fact, they usually repeat word for word what you shouldn't have said. -Anonymous



It's just another Friday.
I hope it'll be a good friday for everyone, including everyone in government (semoga tikus-tikus berkurang, I get sick reading the same news and watching the same face everyday), Padang, Kenya (I saw the malnutrition problem there in aljazeera yesterday), Jerusalem, Gaza, and in every corner of the world.

We'll be doing gardening and learning to do backyard composting tomorrow.

Monday, September 21, 2009

Pictures of Us

Katanya a picture is worth a thousand words.
Aku suka menulis, suka membaca juga. Aku suka mengambil foto, tapi ngga suka difoto. Konon, mataku keliatan lebih sipit kalo di foto...Nah. I lied. Mataku memang dari sananya sipit, seperti itu --> ~_~
Tolong jangan ditinggal lari atau sembunyi kalo aku ketawa.

Anyway, these days were quite...errr...interesting. At least for me.
There were goods, there were bads. There were cools, there were hots. There were laughters, there were tears.
But my mind is blank tonight, so I'll just put some pictures instead.

One of a million things to keep your kids busy.


Damar dan Dimas mbantuin masang lemari baru

Lebaran cookies time! One of our fave time.

A beautiful mess.

Jadi pasang indovision lagi. Demi playhouse disney. Demi liga Inggris.


Dimas : "Ini apa, om?"
Si Om : "Ini kabel"



Rahasia kue enak : eces Dimas.


Mommie : "lagi ngapain, nak?"
Tole Dimas : "lagi motong ikan paus"



Blue and green. A perfect match.


A small hill behind our home. Setiap merasa capek atau galau cukup memandang kesana...

Foto yang diambil oleh Damar dari tempat kita shalat Eid.


Early morning of Eid this year


You can't see it, but there's a beautiful thin crescent moon in the sky


the final shade of sunset


Kegiatan malam lebaran. Nungguin ember penuh. Great. And after that, night exercise. Good for your biceps.


Lebaran with no water. Back to basic, nggotong ember keluar masuk rumah.


And that's a wrap.
Eid Mubarak, everyone! May God bless us always.

I can hardly open my eyes...so ready to sleep and dream about Jogja.
You can hide now.

Thursday, May 21, 2009

Take Three Steps Back



Damar Alif Muhammad, 5 tahun Juli ini, dulunya anak yang temperamental. Sejak bayi sampai sebelum adeknya lahir dia akan terbangun tengah malam atau pagi-pagi buta dan menangis keras. Sering sambil nendangin aku dan papahnya yang tidur bareng dia. Bicaranya juga sedikit telat dibanding anak umur 2-3 taun, waktu itu. Dan SANGAT aktif! Kerjaannya berantem dengan tante Ruwi, yang awal-awal kami di Jakarta sering mampir ke bintaro sektor 4 sepulang kerja (Miss you, Ruuuu....).

Sampai Dimas berumur 9 bulan di rumah hanya ada kami, praktis sebelum adeknya lahir Damar dan aku hanya berdua. Jadi kemanapun aku pergi dia ikut. Apapun yang kulakukan dia duduk di sebelahku sambil membawa mainan favoritnya. Sampai aku kebelet sakit perutpun dia ngotot mau ikut masuk ke kamar mandi...ugh!
Ada masa-masa sangat capek sehingga aku marah-marah. Ada malam-malam ketika dia tidur aku akan menangis, nyesel kenapa kehabisan kesabaran lagi sebelumnya.

Jangan-jangan Dewo waktu itu bingung, mana sebenarnya yang harus dibawa ke psikolog, anaknya atau ibunya, hehehe...

Setelah Dimas lahir dia jadi lebih anteng. Pelan-pelan jatuh cinta sama adeknya. Sekarang dia sangat sayang dan (hampir!) ngga pernah marah kalo diganggu. Aku inget dulu sering ngasih tau, "Nak, jangan mukul temen atau adek ya. Dipukul itu sakit. Kalo mau berantem teriak aja. Panggil Mamah atau guru."

Sejak umur 3.5 tahun dia sempet jadi anak bawang di dua playgroup. Pertama di Kaffa deket Plaza Bintaro, kedua di Al Kautsar di deket kompleks Althia. Kusebut anak bawang karena masuknya ngga di awal tahun ajaran, dan keluar sebelum selesai. Aku juga ngga menekankan dia harus bisa mbaca atau apapun (temen-temennya di Kaffa banyak yang dimasukkan les mbaca sebelum umur 4 tahun). Yang penting dia have fun dan berteman.

Ada beberapa hal yang sempet jadi kekhawatiranku. Entah kenapa, dia sering jadi korban bullying waktu pertama masuk sekolah. Sekali kepalanya berdarah gara-gara dipukul pake kursi oleh seorang temennya di Kaffa, padahal dia sedang duduk bermain sendiri. Kalo di rumah, adeknya lebih garang dari masnya. Bekas gigitan Dimas di perut dan pipinya belum hilang sampe sekarang.

Akhirnya aku sempat berdebat sama papahnya. Apakah baik seorang anak hanya diajarkan mengalah dan tidak membalas? Sebentar lagi anak-anak akan menjalani hari-harinya jauh dari pengawasan 24 jam kita, apa mereka bisa membela dan melindungi dirinya sendiri?

I have to admit this, sempet aku bilang ke Damar, "Mengelak, Nak! Tangkis, kalo adek mau mukul, nggigit atau ngelempar. Jangan diam aja." Atau kalo udah kuesel buanget, "Cubit tangan adek kalo adek nggigit!"

Hasilnya?
Sampai hari ini, si adek masih suka iseng. Ngga ada angin, ngga ada ujan nggigit. Atau ngelempar masnya pake balok-balok kayu yang diculik dari 'stasiun' atau 'kastil' yang lagi dibangun si Mas. Dan sebagai tambahan, sekarang masnya sering di'cuwewek' (istilah Mbak Yuk), dicubit pipi kanan-kirinya...kayaknya ucapanku tentang mencubit malah menginspirasi serangan alternatif.

Time Out masih belum terlalu efektif. Omelan atau bentakan? 100% pasti gagal! Heran aku, sudah tau ngga ngefek marahin anak seperti itu masih ngga bisa total ngga dilakukan juga...Maafkan mamahmu ya, Nak!

Ketika lagi pusing, beberapa waktu yang lalu aku mbaca a must-read-blog Leila El Saba, one of my blogger friends. Dan ada post yang sangat me-recharge. Mengingatkan lagi dengan tendangan keras di hatiku.


Advice for the President from my seven-year-old:

Don't litter.
Take down the war.
Save water.
Tell friends don't fight or I'll tell Mama and you'll be in a time out.
If somebody fights with you, take three steps back.
If you see a good teacher, tell him or her.


Jika seseorang berkelahi denganmu, ambil tiga langkah ke belakang.

Tell your children that it is alright to say 'no' if someone tries to hurt them. But never, never tell your children that it is alright to hurt someone.

You know what, I've learned much more from my kids than they ever learned from me. Perhaps,I need them more than they me.


Thursday, April 2, 2009

Sh***!



Ha!
Something happened tonight.
Ceritanya anak-anak lagi bikin konser. Ada kaleng bekas twister, ada toples kerupuk, ada panci, ada sendok...
And as usual, Dimas mulai bosan dengan instrumennya dan mulai menjarah alat musik mas Damar. Insiden pertama Damar cuma diam dan pindah ke panci lainnya. Dimas kukasih first warning. Insiden kedua Damar mendesah panjang dan Dimas dapat second warning. Insiden ketiga aku lupa nge-warning Dimas karena aku mendengar Damar bilang "Sh***!"

What??? Sh***????
I'm pretty sure we never said that "S" word in our home.

Akhirnya terjadilah interogasi seperti ini.

Aku : "Damar tadi bilang apa, nak?"
Damar : "Sh***."
Aku : "Apa?"
Damar : "Sh***, Mamaaahhh!"
Aku : "Sh**?"
Damar : "Iya. Sh***."
Aku : "Artinya apa itu, nak?"
Damar : "Domba, Mamaaahhh."

............
Phewww.
Ya begitulah. Aku masih ngga tau darimana Damar bisa menggunakan kata Sheep untuk situasi seperti itu. He must've been heard it from someone and somewhere, of course.
But my lesson for today, jangan berburuk sangka. And walk your talks. Really.

S is for Sheep, Mom!

Friday, March 13, 2009

No Parents Zone

Sebagai full time mom, atau housewife, atau Ibu Rumah Tangga (you name it...), salah satu kerjaan sehari-hari adalah antar jemput sekolah. Damar sekarang sekolah di PlayGroup dekat rumah. Dan karena malas bolak-balik biasanya aku akan menunggu di luar pagar sekolah dengan berbekal bacaan atau sekadar mp3 player. Lebih sering sendirian. Tapi jika ibu-ibu yang lain ada yang nunggu juga biasanya pojok di bawah pohon mangga tempat para penunggu akan ramai. Seperti hari ini. Obrolannya berkisar dari politik, buku, fikih seksual (ah...^^), dan bagaimana cara menyita hp anak SMP kelas 2 yang mulai ada video pornonya >,<
Yang terakhir adalah dilema dari temanku yang anak tertuanya sudah remaja. Hmmm...dipikir-pikir, sebenarnya masalah Dimas mogok mandi atau Damar ngga mau makan tempe belum ada apa-apanya ya...

Anyway, sharing dan guyon emak-emak begini lumayan memberi pencerahan. Apalagi karena sehari-hari yang dihadapin adalah dapur, kompor, wortel, pampers, ompol dan anak umur 2 dan 4 taun yang sering terlalu sibuk menyusun balok kayu atau lego sehingga ngga denger mamahnya ngajak ngomong. Ah, my precious dynamic duo ^^

Hari ini ketika bermain di halaman sekolah Damar dipukuli oleh seorang temannya sementara guru-guru tidak melihat. Damar hanya nangis. Dia salah satu dari sekian anak yang ngga pernah memukul. Reaksi pertamaku adalah lari masuk ke dalam halaman, memegangi tangan anak itu dan bilang "Tidak boleh mukul!" Lalu aku peluk Damar dan bilang "Jangan diam saja kalo Damar dipukul ya". Akhirnya kuserahkan pada gurunya dan kulihat Damar dan anak yang memukulnya tadi bersalaman.

To be honest, I was angry. Aku emosi sama anak 3,5 taun. Malu-maluin...
Jadi my lesson today, stay out from No Parents Zone. Minta gurunya lebih mengawasi anak-anak dan keluar saja. Kita tidak akan bisa mengawasi anak kita 24 jam seumur hidupnya. Berikan bekal buat mereka mandiri dan berani membela diri sendiri. Teach them compassion and common sense. Bagaimanapun juga itu tugas kita sebagai orangtua. It's another never ending journey.


Saturday, March 7, 2009

Back On Track

I haven't wrote for...what? 2 weeks?
Hmm, a lot of things and thoughts. Didn't have enough time for all of them.
Plus, Damar and Dimas need my time more and more everyday. Dimas will sit in front of me or climb my back everytime i turn on my computer ^^

Also, it is that easy to forget, like i've wrote before. And it's easy not to write. It's easy just to live our everyday life without being haunted by depressing thought, or affected by hatred you can find everywhere on the net.

I visited hummusmonster's blog today. He wrote "A person could have never completed that journey."

I guess he's right.

Well, I read this letter in The Jakarta Post
The fragile ceasefire in Gaza has been broken by both sides. The Israeli actions are understandable, even if one does not support them: They are designed to stop ongoing rocket fire upon its civilians.

The continued Palestinian rocket fire cannot be so easily sympathized with. There is no element of defence in the Palestinian rocket fire.

The aims of the Palestinian rockets are to kill and maim, and to entice Israel to react. If anyone is interested in creating peace, the key is, as it always has been, stopping Palestinian violence.

Michelle Moshelian
Givatayim, Israel


Having reading a lot of, I mean A LOT OF, articles and comments about Israel-Palestine, I think this letter is the worst of their kind.
This is my comment (still waiting for moderation at the time i write this post):
Another bad justification and Hasbara failure for Zionist's occupation and crimes againsts humanity. Israel must stop building illegal settlements, stop demolishing homes and farms, stop the land grabbing (as described by UN, EU, ICJ and NGO's like Btselem, Amnesty International etc), stop humiliating people using check points and stop Israeli violence.
Just because I'm Indonesian doesn't mean I don't read Haaretz or Btselem. Check your facts again!


I'm back on my track on this journey again.

On my daily basis, my children are my best distraction.
This is Damar with his classmates and teachers.





We are so blessed...
I wish every child in the world can live a happy and peaceful life...

Wednesday, February 18, 2009

Kids Can Be Cruel



Yup. Itu Damar. Ketiga dari bawah.
Happy as it seems.

Tapi kemarin, ketika nemenin Damar main di taman, aku mendengar dua orang anak laki-laki cowok di kompleks (5 dan 6 tahun) berkata: "Ah, ngga mau ah, maen sama kamu! Kamu aneh!", dengan tampang se-you're-nerd-stay-away, mungkin.
Saat itu Damar sedang ngeliatin anak-anak yang lagi maen sambil pura-pura motret pake mainan kalengnya.
Waktu damar bilang, "Say cheese!" sambil 'motret', anak-anak itu ngetawain lagi, "Aneh! Aneh!"

Damar? As usual cuma diam. Ngga terlihat tertekan atau sedih atau marah.
Lima menit kemudian dia sibuk motret-motret lagi.

Well, kids.

By the way, akhir-akhir aku sering nulis tentang Palestina. Bukan kenapa-kenapa sih, memang itulah yang ada di kepalaku. Dan karena ada beberapa teman blogger di luar Indonesia, jadi sedikit banyak kucoba nulis dengan bahasa Inggris.
Beberapa tulisan tentang agama, satu tulisan tentang orang-orang Rohingya (sangat-sangat berempati sama mereka...), satu dua tulisan tentang Pemilu dan korupsi.

Wew, ternyata banyak sekali yang bisa ditulis...PRku banyak juga ^^

Semacam kliping buat Damar dan Dimas nantinya.

And for now, I guess I want to read my dynamic duo this poem:


I'm Glad I'm Me
by Phil Bolsta


--------------------------------------------------------------------------------
I don’t understand why everyone stares
When I take off my clothes and dance down the stairs.
Or when I stick carrots in both of my ears,
Then dye my hair green and go shopping at Sears.
I just love to dress up and do goofy things.
If I were an angel, I’d tie-dye my wings!
Why can’t folks accept me the way that I am?
So what if I’m different and don’t act like them?
I’m not going to change and be someone I’m not.
I like who I am, and I’m all that I’ve got!



(http://www.gigglepoetry.com)

Monday, February 2, 2009

Ketika Aku Tidak Menulis

Ketika aku capek dan 'my body is not so delicious' (ckckckc...),
ketika batere alkaline-nya Damar Dimas tidak perlu di-charge seharian,
ketika asisten andalanku, Mbak Yuk, pulang kampung nengok Putri tercintanya,
ketika aku pikir aku ndak bisa menulis.

Aku menulis lagi.

Hanya melepaskan diri dari mengepel susu tumpah,
mengelap ingus dan muntah,
mengganti baju dan celana yang basah,

Hanya libur sebentar dari membujuk Damar makan wortel,
menghela nafas waktu Dimas cuma mau baksonya dan menolak kol,
menahan nafas ketika mereka kejar-kejaran dan berakhir dengan Dimas koprol,

Hujan deras seharian,
ndak sempat ngeluarin jemuran,
Jakarta banjir dan macet, jadi semacam kebiasaan.
Like my mom in law said when we moved 'temporarely' to this city, "you'll get used to it"
Pehuleesss....

Masak perkedel kentang dan sup di dapur sementara anak-anak menaburkan semua jenis barang di penjuru rumah. Termasuk coco crunch dan jeruk.
Mengalah ketika Dimas mengganti 'Tak ada yang bisa'nya Andra & The Backbone di RCTI dengan dvd Pak Pos Pat.
Mengunci pintu kamar jam 3 siang, dan tertidur sejam sementara anak-anak masih melompat-lompat di atasku.
Hmmmm, gimana caranya supaya batereku lebih long lasting dibanding batere mereka....

Jam 10 malam.

The boys are sleeping now. All of them. Including their dad.

Yayyyy!!!!!

Introspeksi hari ini : Harus lebih sabar.

Tuesday, January 20, 2009

January 20th 2009, From Dimas To Obama


Dimas is unwell.
He got this asthma attack yesterday. Didn't sleep all night.
So today we spent morning and afternoon in hospital. Thanks God, He's okay now.
So exhausted he felt asleep on the couch.


I hope he'll be able to sleep well tonight.


And yes! Today is the day.
Despite all doubts about Obama, I have to say that I love the "we are one" inaugural concert. Love Bono, as always.

”Let freedom ring. On this spot where we’re standing 46 years ago Dr. King had a dream. On Tuesday, that dream comes to pass,” before launching into ‘Pride (In The Name Of Love)’, U2’s tribute to Dr. Martin Luther King Jr.

“This is not just an American dream,” he said, adding that it was “also an Irish dream, a European dream, an African dream… an Israeli dream… and also a Palestinian dream.”


Love Bruce Springsteen and Peter Seeger,

"As I went walking I saw a sign there
And on the sign it said “No Trespassing.”
But on the other side it didn’t say nothing,
That side was made for you and me.

In the shadow of the steeple I saw my people,
By the relief office I seen my people;
As they stood there hungry, I stood there asking
Is this land made for you and me?

Nobody living can ever stop me,
As I go walking that freedom highway;
Nobody living can ever make me turn back
This land was made for you and me."


Did you see them?

Forget Obama with his hear-see-speak nothing. Forget him with his "deep concerned" and "strongest ally" talks.

I want to believe, with so many nice people out there,
with or without Obama, change will come.

Barack Hussein Obama, good luck!
May God help you.

Sunday, January 18, 2009

My children, Their children

Yesterday, January 17th, was Dimas 2nd birthday.
My little man Dimas :)

Didn't feel like celebrating tho'. Just hugs and kisses, a little more tickling, a lot of laughs and love from me, his dad and his big brother.
Just thanking God that we have wonderful life, wonderful family, wonderful friends.
Thanking God for the blessing...

This morning i found this beautiful yet heartbreaking article in www.counterpunch.org,
Written by Ellen Cantarow, musician and writer, reported from the West Bank and Israel during the 1980s for the Village Voice, Mother Jones, Grand Street and other publications. She has visited and about the region periodically since 2000.

On March 20,2004, she wrote "I am Jewish. I am Israeli. I am a citizen of this state, and I am very upset." , opposing the occupation.

She is also a Boston-based pianist, singer and teacher.

Now I Am My Mother, Weeping...
I Could Not Save a Single Child
By ELLEN CANTAROW

When I was a child my mother used to cry, “I couldn’t save a single Jewish child.”

Now I am my mother: I cannot save a single child in Gaza.

Not the ones wrapped in green cocoons lying row on row, surrounded by throngs of grieving men. I cannot comfort the fathers who jump up and down in agony, screaming as their children lie dead before them on the ground.

I cannot comfort the mother whose eyes, ravaged and blanked by terror, stare beyond me from the photograph, nor save the little one with bloodied, bruised face who stands beside her, nor the older brother, the only two who survived of six. I cannot say, “Come, we have a big, comfortable basement with a bed for you and the children, and a bath, and plenty of food. We will take you and shelter you.” I cannot welcome them to a home full of calm, of sunlight, with the warmth of potted plants, the refrigerator full of food, the showers waiting to receive them, the warm water streaming down to comfort their bruised and tired bodies.

I cannot save a single Gaza child.

Not the ones I saw on Al-Jazeera lying dead with heads all bloodied, under blankets on the ravaged ground. Not the little one, 2, maybe 3, bloodied bandages covering her bloodied skull and face leaving me her bruised lips and part of one dull and hopeless eye, her helpless bigger sister, surely no more than 4, beside her. I cannot take her, bring her back to normal life, hug her and sing to her, hold her up against my piano and ask her to listen to the strings as I run my fingers over them, watch while her face lights up with pleasure as she spots my cats, hold her, hold her, and hold her….

I cannot save the little girl, maybe 5, who says the soldier stood and looked at her, then shot her hand and then, as she turned to run to her mother, her back: “One bullet went out my back and through my stomach.” Will doctors in a hospital the siege had already drained of medicines and equipment, a hospital where patients must share beds, where the floors are full of the wounded, and the blood pools around them --- will the doctors working quickly, as expertly as they know within the chaos of the terrified families pouring in from the terrified streets of Gaza City, will the doctors working as quickly as they know, but in this wasteland, save her?

I cannot save the newborn Mohammed, monitors on his chest, a respirator over his tiny face, born within the ground-shaking, ear-splitting terror of bombs falling from F16s, into a life from hell, where the smoke of exploding shells and bombs gags the other children, the women, the men, fleeing helpless before the behemoth wielding their “pure arms” to crush these “two-legged cockroaches,” these Palestinians of whom Golda Meir said, “There are no Palestinians,” and whom the Hebron settlers curse in savage scrawled grafitti: ARABS TO THE GAS CHAMBERS. These people concerning whom the Rabbi said, “One Arab is not worth a million Jewish fingernails.” Concerning whom Avigdor Lieberman, that man of the Israeli people, says, drop the atom bomb on them as the Americans did on Japan.

I cannot lift the dark-faced, dark-haired teenaged girl from the stretcher, rock her in my arms and say, “Darling, Shhh, it will be all right,” because it will not be alright. She is already dead, face down on the stretcher where the hopeless cover her body while I watch her image at my computer.

It will not be alright.

It will not be alright.

It will not be alright. I am my mother, and it is 1942 all over again, and this is the Warsaw Ghetto – different, I’ll admit. I’ll admit they aren’t killing everyone. Just some of them. Only 400. Only 600. Only 800. Only 1000. When does “collateral damage” become malice aforethought? When does that malice translate as “deaths?” When do deaths become “a massacre?” How many in a massacre? A holocaust? The shoa Mr. Vilnai wanted?

I cannot save a single child in Gaza. I am my mother, and we are weeping together.

(All of the images of Gaza in the prose-poem above are from Al-Jazeera English. The references to Deputy Defense Secretary Matan Vilnai and other figures come from my archives and library.)

Friday, January 16, 2009

Dear Damar

Dear Damar,
Damar sakit ya, Nak?
Soalnya Damar :
1. bilang "Ndak usah sekolah ya, Mah?", padahal biasanya libur juga minta sekolah
2. bilang "Ndak usah maen di luar yak", padahal biasanya disuruh pulang susah
3. jam 9 pagi sudah tidur lagi, padahal biasanya siang dikasih ultimatum dulu baru mau take a nap
4. minum susunya jadi males, padahal biasanya kudu ditahan-tahan biar ndak kekenyangan susu terus lupa makan


Damar demam ya.
Cepet sembuh ya, Nak.

I love you so much...
Mamahmu yang lagi diare >,<

hehehehehe....T_T

Tuesday, January 13, 2009

Rainy Days and Us



Class room.



The friendship tree.



Damar, "don't take my picture, mamah!"

It was raining hard since dawn.
But Damar is always more than happy to go to school ^^
With our 'water-proof uniform' we went to Damar's school, about 2 km from home, by motorbike.
Another normal day at school for Damar. Jangan lupa bersyukur ya, Nak...



Dimas Arga Nurtsany





Another cloudy days.

Wednesday, January 7, 2009

life in spite of everything

680 Palestinians dead. 3075 wounded
10 Israelis dead.

Israel spokeperson said, "3 hours a day of cease fire".
That's 21 hours a day of bombardment.
Wow...

Found this interesting site, www.mepeace.org and www.othervoice.org

At home,
Damar sudah mulai sekolah lagi.
Menyenangkan melihat dia di kelas. Duduk depan (karena kalo di belakang dia akan sibuk maen), sekali-kali ngangkat tangan tanpa ditunjuk gurunya (wew, he's braver than me...or smarter than me? ^^), nyanyi twingkle twingkle little star waktu singing time. Sahabatnya anak perempuan imut bernama salvi.

Dimas sudah lulus! Sudah ngga ASI lagi ^^
Perjuangan kami 2 minggu akhirnya berhasil juga.
Terima kasih untuk 2 tahun yang menyenangkan selama masa breasfeedingmu ya, Nak...

Tuesday, December 23, 2008

Dialogku dengan Dimas Arga


Malam hari, jam 9.
Aku : Adek, bobok yok...
Dimas : Mamah. Nenen. Boboookkkk!!!
Aku : Bobok di puk-puk aja, nak...sini Mamah puk-puk...
Dimas : (Mulai mimbik-mimbik) Nenen. Boboookkk....
Aku : Mau mbaca? Mau nyanyi?
Dimas : (Berkaca-kaca) Angggg....Nyenyennn...
Aku : (Nyanyi Nina Bobo sambil nepuk-nepuk punggung Dimas)
Dimas : Huaaaaaaaaaaaaa....T.T

Kira-kira 30 menit kemudian dia tertidur sambil setengah tengkurap mbelakangin aku.

Tengah malam, jam setengah 1.
Dimas : Anggggg....nyenyeeennnn...
Aku : Ssshhh, sshhh, sshhh...bobok lagi sayang
Dimas : HUaaaaaaaaaaaa...T.T

15 menit kemudian Dimas dah merem lagi, tetep mbelakangin aku.

Jam 2 pagi.
Dialog yang sama dengan yang jam setengah 1, tapi kali ini diakhiri dengan Dimas turun ke kasur bawah dan bobok sama Damar.

Jam 4 pagi.
Nangis nyari nenen, tapi langsung bobok lagi.

Jam 6 pagi.
Bangun sambil nangis, lari keluar kamar.
Dimas : Neneennnn....
Aku : Pagi, sayang...Mau minum susu coklat apa teh? (Anak-anakku suka nge-teh, kayak embah-embah >,<)
Dimas : Anggggg...Nenen!Nenen!Nenen!
Aku : Mau jus, Dek?
Dimas : Ma Mauuu!!! (Ngga mau!!!)
Aku : Gendong yuk...
Dimas : Ma Mauuu!!!

30 menit kemudian berakhir dengan jongkok berdua di teras depan ngeliatin ulat yang numpang lewat.

Hehehehehe....
Januari tanggal 17 Dimas 2 taun. Dan sekarang sedang proses menyapih.
Papahnya sih udah nyuruh dia disapih dari sebelum Idul Fitri ("Dimas, nenen Mamah udah kadaluarsa, gak usah nenen lagi yak??" Untung Dimas ngga bisa dibohongin...).
Tapi aku berkeras tetap menyusuinya sampai 2 taun.
Lha anugerah dari Allah kok dibuang-buang? ^^

Dua tahun.
Dan sedang hobi-hobinya nonton Popop Pat (Pak Pos Pat), minta diliatin kalo joged-joged tiap ndenger lagu (ekshibisionis juga yak ^^), dan lagi galak jadi harus sering-sering dikasih time out (duduk diam sendiri di sofa selama semenit, believe me..that's hard for an angry child.)

Yang kosakatanya sekarang :
1. Mamah, Papah, Ma (Mas), Nenek, Mbah, Hajuk (Mbak Yuk)
2. Yaa hatoohh! ( Yaa jatuh!), Ihhh Pipiii! (Ih, Pipis!)
3. Hana? Hana? (Mana? Mana?)
4. Tek ampah, hini!! (Truk Sampah, sini!!)
5. Oloohh Ouwborrr... (Allahu Akbar...)
6. Ikan, udang, empe (tempe), hahu (tahu), otel (wortel), mpek-mpek, ais (es), emen (permen)

Dan masih banyak yang lain.
Heheh...kapan-kapan kubikin kamus Bahasa Dimas-Indonesia aja deh!

Phew.....
Semoga mamamhmu ini bisa jadi ibu yang amanah ya, nak...
Ibu yang semakin sabar untuk mendengarkanmu dan menatap matamu ketika kalian marah dan sedih. Yang tertawa dan tersenyum untuk setiap hiburan dan candamu.

Semoga mamahmu ini ngga gaptek dan males belajar biar bisa njawab sejuta macam hal yang kalian tanyakan.

Yang semakin rajin mengajak kalian nyanyi, nari, maen kuda-kudaan, melempar kalian tinggi-tinggi ke atas dan menangkap kalian lagi (lumayan, gak perlu angkat barbel), dan ngasih tau nama-nama mahluk penunggu kebun kita.
" Itu ulat bulu, itu kodok, itu semut, itu bunga matahari, itu anyelir, itu pohon mangga, itu kadal, itu kaki seribu, itu...itu...itu pupup kucinggg!!! Huaaaa!!!"

Hmmm...Life is beautiful indeed.

I hope you never lose your sense of wonder
You get your fill to eat
But always keep that hunger
May you never take one single breath for granted
God forbid love ever leave you empty handed
I hope you still feel small
When you stand by the ocean
Whenever one door closes, I hope one more opens
Promise me you'll give faith a fighting chance

And when you get the choice to sit it out or dance
I hope you dance
I hope you dance

I hope you never fear those mountains in the distance
Never settle for the path of least resistance
Living might mean taking chances
But they're worth taking
Lovin' might be a mistake
But it's worth making
Don't let some hell bent heart
Leave you bitter
When you come close to selling out
Reconsider
Give the heavens above
More than just a passing glance

And when you get the choice to sit it out or dance
I hope you dance
(Time is a real and constant motion always)
I hope you dance
(Rolling us along)
I hope you dance
(Tell me who)
I hope you dance
(Wants to look back on their youth and wonder)
(Where those years have gone)

I hope you still feel small
When you stand by the ocean
Whenever one door closes, I hope one more opens
Promise me you'll give faith a fighting chance


(I hope you dance-Lee Ann Womack)

Friday, November 21, 2008

Simple things my children learned from me (and i learned from them)




Soundtrack tulisan ini : Beatles ^_^
"All you need is love, love, love is all you need..."

Judulnya ditulis ngingglish, soale bahasa indonesianya puanjang tenan...
So, here's the list:

1.Membuang sampah pada tempatnya (yaitu tempat sampah, bukan keluar jendela mobil!!!)
Kuajarkan sejak Damar dan Dimas masih belum bisa bilang "tempat sampah".
Suatu ketika aku berdua Damar nunggu Dewo selesai ngisi bensin motor di SPBU dekat Parigi. Damar yang duduk di pinggiran SPBU tiba-tiba nanya," Mah, kok bungkus permennya gak dibuang ke tempat sampah. Rumputnya jadi kotor..." sambil nunjuk ke bawah kakinya. Saking terharunya, aku yang biasanya gak seekstrem itu langsung mengambil bungkus permen yang entah sembarangan dibuang siapa dan membuangnya di tempat sampah SPBU.

2. Tersenyum dan menyapa
Ada sedikit culture shock waktu kami 3 bulan di Brisbane. Orang-orang disana terlihat lebih gampang nyapa dan tersenyum pada orang yang nggak mereka kenal. Apalagi kalau aku pergi sama anak-anak.
Kuputuskan untuk melakukan hal yang sama disini. Jadi sekarang Damar akan teriak "Pak satpam!!" dan tersenyum pada Pak Satpam yang menunggu gerbang atau keliling kompleks. Dimas akan berdiri di depan pintu rumah dan 'dadah-dadah' sama 'tek' sampah yang lewat 2 hari sekali. Supir truk sampah itu sekarang jadi fansnya Dimas kalo lewat depan rumah.
Senyum dan sapa, hal mudah tapi suka dilupain. Padahal efeknya sangat menyenangkan.

3. "Tolong", "Makasih" dan "Permisi"
Berlaku untuk semua orang, tanpa terkecuali. Dan walo sekarang di rumah ada asisten jempolan dari Bantul, Mbak Yuk, anak-anak kuajarkan melakukan sesuatu sendiri dulu. Lucunya, sekarang Dimas sedang hobi buang sampah ke tempatnya.
Jadi kalo dia liat botol susu masnya kosong, kuthuk kuthuk kuthuk dia ilang ke dapur. Mbuangin sampah masnya. Anak yang baik sekali ^_^

Dimas juga lagi hobi bilang "misyii, misyii" (permisi maksudnya). Jadi jangan heran kalo dia keliling rumah sambil ndesel-ndesel semua orang dan bilang "misyii!!"

4. Aware sama alam
Anak-anak paling senang observasi kupu-kupu, capung, semut, ulat, cacing tanah, burung, kumbang, kodok, kucing, ikan dan semua mahluk hidup di sekitar rumah. Kalo Dimas dulu masih sering ngeliatin pojok rumah atau langit-langit yang mungkin ada mahluk lain juga, untung sekarang udah nggak...hehehe!

Damar sudah paham bahwa binatang itu bisa sakit juga, jadi dia gak pernah ngganggu.
Bahkan ulat ijo raksasa yang makan daun tanaman mamahnya di kebun pun berhak hidup dan cuma dipindahin ke rumput di luar halaman. Yah, kalo besok pagi si ulet gendut dah balik lagi ya gak p pa, namanya juga usaha >,<
Papahnya biasanya lebih sadis, ulatnya disuruh berenang di got...

Aku paling senang mengajak Damar Dimas duduk di teras atau mengintip dari jendela ketika mendung, angin, hujan dan badai petir. Biasanya Damar akan bertanya panjang lebar sampai akhirnya aku harus mengakui kalo ada hal yang aku juga nggak tau :P

Kalo sore hari matahari akan terbenam di langit Barat, biasanya Damar kujawil "Tuh, mataharinya mau turun! Sunset, Damar!" Kalo malam hari langit Jakarta masih menyisakan bulan dan bintang yang gak tertutup polusi, kuajak Damar menghitung bintang.
Dan aku jadi ibu paling bahagia sedunia waktu damar bilang, "Mah, moon-nya kayak pisang ya?" waktu bulan sedang sabit. Simple words...but mean the whole world to me ^_^

Subhanallah ya, Nak...

5. Empati sama sesama
Kadang kupikir ini yang paling gak simple...
Bagaimana menjelaskan sesuatu yang terkadang orang dewasa pun sulit merasakannya?
Kumulai dari makanan di rumah, kenapa sebaiknya dihabiskan. Karena Pak Tani sudah capek nanam padi. Papah sudah kerja keras nyari uang. Mamah dan Mbak Yuk sudah masakkin buat semua. Jadi di setiap butir nasi ada artinya.

Kalo di jalan ada temannya Damar dan Dimas yang lagi minta-minta atau ngamen, berikan susu frisian flag strawberry-mu untuk dia. Karena di rumah kamu masih punya banyak. Kalo habis masih bisa beli di Indomaret. Kita beruntung,Nak.

Kalo mandi dan ember mandimu sudah penuh matikan airnya, Nak. Karena air mahal. Karena banyak orang yang ngga bisa mandi dengan air berlimpah.

Kalo film dinosaurusnya sudah habis ditonton matikan tivinya, ya? Karena listrik mahal. Karena banyak sekali teman-temanmu yang nggak bisa menikmati listrik. Apalagi tidur di ruangan ber-AC.

Saat membuang sampah, pisahkan botol susumu yang sudah kosong, Nak. Karena botol dan plastik banyak yang masih bisa dimanfaatkan oleh Bapak Pemulung. Pisahkan dari kotoran basah lain biar nggak terlalu kotor mereka memegangnya.

Jangan berbohong, Sayang...Jadi anak yang jujur.
Jangan memukul teman dan saudara.
Dipukul itu sakit. Badannya sakit, hatinya juga terluka.
Tapi kalo mainan dan hakmu dilanggar, jangan takut. Jangan nangis.
Jangan mengambil yang bukan hakmu ya, Nak. Kalo temen nggak mau minjemin ya sudah, jangan marah.

Itu beberapa hal yang nggak pernah bosen-bosen kukatakan dan lakukan. Sounds very bawel,huh?? hehehehe...
Tapi itu masih sedikit...masih banyak yang harus kulakukan untuk anak-anakku.

Dan selama 4 tahun 4 bulan ini, sejak Damar lahir, kemudian Dimas, tak terhitung pelajaran yang kudapatkan dari mereka. Detik begitu Damar lahir aku jadi bener-bener ngerti seberapa besar cinta orangtuaku untuk anak-anaknya. They would took the bullet for us. Like I will took the bullet for my children...

Nothing I learned at university or in my travels could compare with the education I receive raising children. My children are mirrors of my soul...

A mother's song

Today I left some dishes dirty,
The bed was made about 3:30,
The diapers soaked a little longer,
The odour grew a great deal stronger.
The crumbs I spilled the day before
Are staring at me from the floor.
The fingerprints upon the wall
Will likely be there till next fall.
The dirty streaks on window-panes
Will still be there until it rains.
"You lazy, messy thing," you say,
"And just what did you do today?"
I held a toddler while she wept,
I nursed a baby till he slept,
I played a game of hide-and-seek
And squeezed a toy so it would squeak.
I pulled a wagon, sang a song,
Taught a child right from wrong.

What did I do this whole day through?
Not much, I guess it's really true.
Unless you think that what I've done
Might be important to Someone
Who loves me still and shares my cares.
If that is true, I've done my share.

--Jeannette Whilsmith

Thursday, November 13, 2008

Beres-beres

Hari ini fluku sudah lumayan menghilang.
Sudah nggak bersin-bersin tiap 5 menit dan gak ngabisin tisu satu kotak lagi.
Tapi aku jenuh!
Akhirnya kukeluarkan semua mainan anak-anak yang selama 2-3 bulan sudah tidak dirapikan.
Dengan senang hati Damar dan Dimas membantu menuang semua isi boks mainan mereka.
Terhitung ada satu kontainer besar, satu boks sedang dan satu keranjang berisi mainan.


ketimbun mainan!!! horeee...



mainanku mainanmu juga, bro...


Aku mulai menyortir jam 8 pagi.

Mainan yang rusak dan patah-patah karena dibanting masuk plastik sampah.

Mainan yang sering Dimas jadikan alat menggetok masnya kutaruh paling bawah.

Mainan mamahnya yang keikut masuk di mainan mereka (kabel mp3 player dan dvd korea) cepat-cepat diamankan.

Mobil-mobilan dpisahin dari pesawat-pesawatan, boneka dipisahin dari bola, mainan kotak dipisahin dari yang bulat...now you know how desperate I am??? Hehehehe....

in progress


Jam 12 akhirnya selesai.

after the mission


Mari kita bongkar lagi mainanmu besok pagi, Anak-anakku sayang! ^_^

Tuesday, November 11, 2008

Sendiri yang sepi

Tadi pagi bapake Damar Dimas berangkat ke Balikpapan. Cuma sampai besok malam sih...
Waktu tau papahnya mau pergi naik pesawat, Damar bilang begini,
" Pah, Damar mau ke rumah nenek di Jogja...naik Luthfansa!"
Kebanyakan mbaca (ngeliat-red) buku dia!

Hari ini sudah diisi dengan menyibukkan diri.
Mbayar air dan belanja berdua Damar. Seperti biasa kita belanja di Indomaret.
Selain dekat, juga tempat belanja favorit damar begitu dia tau lebahnya Indomaret namanya Domar.
Jingle-nya aja dia hapal...

"Indomaret dimana-mana, dekat anda semua suka
Indomaret untuk keluarga, melayani kebutuhan
Utama sehari-hari...Indomaret milik bersama
Indomaret pilihan tepat
Indomaret mudah dan hemat.... "

Hehehe, jadi iklan...

Anyway, udah sering banget aku dan dewo belanja disana. Tetap saja mereka masih heran kalo kita minta belanjaan dimasukin ke tas kain yang aku bawa. Dan aku mengulang lagi alasan "plastik di rumah dah banyak,mbak!" Hhhhhh....

Waduh...aku gak bisa nulis lagi nih.
Barusan Damar throw up, dah kubersihin sih.
Tapi baunya menguar. Campuran susu strawberry dan kue coklat yang sudah diproses 3 jam di perut anakku tersayang itu.
Sudah pengalaman dengan segala jenis muntahan selama 4 tahun kok ya masih pusing nyium bau muntah ya?
Pusyingg...

So, here I am. Writing on my own.
Biasanya ada yang ngintip-ngintip di balik pundak ( that would be Damar), atau narik-narik baju minta dicintai dan, of course, dineneni (that's definitely Dimas), atau nonton bola sambil bolak-balik koran terus mijet-mijet punggungku (who else? Dewo).

Sendiri yang sepi.
Sepi yang sendiri. Bahkan aku malas mendengarkan lagu.

Jadi inget tadi sore.
Smsku ke Dewo nanya kabar, dijawab dengan bersemangat, " Mau makan malam di dapen nih, sambil main bilyard!"
Saat itu aku sedang duduk di teras rumah sambil memandang hujan, merasakan angin dingin yang mengingatkanku pada angin di gunung, sendiri saja (anak-anak dikunci di dalam rumah sama mbak Yuk ^_^)

DAN MALAM INI AKU MELER!!!! Thanks to berdingin-dingin di teras rumah, hihihihi....

Suamiku sayang, berikan aku satu cuti naik gunung sebelum kita pindah lagi, dan rumah di balikpapan yang gak pake mati lampu 12 jam atau narik-narik selang dari rumah tetangga waktu PAM mati (dan bisa dipastikan selalu mati!). That's not too much to ask, is it? ( I know the answer : "Banyak amat mintanya...rumah yang kayak gitu di balikpapan kan cuma rumahnya ekspat!" Hehehehe....)

Pusyiingg...meleerrr....nguantuuukkkk....
Kuangen mamah... (mbok-mbokanne metu!)

Wednesday, September 24, 2008

Stories in Jogja

I'm home!
It's my 4th day in jogja, and i'm enjoying it.
Don't have much time to write since we have five 'babies' at home! Mine and my sister's ^_^
Damar 4 y and 2 mo, Rakha 3 y and 9 mo, Rayyan almost 2 yo, Dimas 1 y and 9 mo, and the newest member of the gang, Chika 3 mo...wow! griya indah home feels like kindergarden already...

So, it's just us (Nenek Nurul, aunty Mala, Mbak Mima and me) and them. Cause Dewo and mas Bagus are still working in Jakarta and Sidoarjo. No Nanny, No maid, No assistant.
We have to try our best to avoid them for biting and kicking and punching each others.
Believe me, it's not that easy, man!

They're like the fastest babies ever! Superbabies!
Except Chika, she's so sweet and calm. Maybe because she's the only baby girl at home.

Yesterday we went to Kasongan. Full squad! The boys really enjoyed their time together and got their wooden toys. But, really, it's tired to go shopping with kids =(
Maybe, that's good thing. So we won't be spent so much money,hehehehe...

I think Damar misses his daddy. He said to me last night, "Kok Papah gak dateng-dateng ya?"
Dewo will join us this saturday, Insya Allah. He will take the car from Jakarta to Jogja.
And we have so much plan for you, Dad! ;P

Mom wants to take you to Kasongan again, or Mirota Batik at Malioboro
(huehehehe, beware, Wo!)
Damar wants to take you to Gramedia to buy him Doraemon.
I'm not sure with Dimas, Dad, but maybe he just want you to carry him
We miss you!