Showing posts with label my beloved dad mohammad amang. Show all posts
Showing posts with label my beloved dad mohammad amang. Show all posts

Friday, June 5, 2009

Reminiscing (warning : for mellow minds only)

Balikpapan mendung pagi ini.
Sambil menunggu listrik yang pagi-pagi masih dangdutan berkat maintenance genset aku merapikan tumpukan di bawah meja komputer. Dan menemukan organizer hitam lusuh jaman kuliah.

Di halaman pertama ada catatan kuliah Etika Bisnis Pak Raka "You don't have to cheat to win" dan "There is no right way to do a wrong thing". Atau "If you always confronted with easy choices you don't build a character".
Catatan ini kutulis di balik skrap PTI dengan tabel berisi 'Prefabrikasi', 'Fabrikasi' dan 'Assembly'lengkap dengan CO Saw, Circ. saw, Planner, Jointer, Disc Sand, dan Drill Press-nya... :)

Di halaman-halaman selanjutnya ada beberapa coret-coretan tentang
"asistensi SISPROD-12.30"
"tenis bareng mas ganthang!!"
"PR MI chapt 9-10"
"PR Mankua (2 biji!)->tighten"
"tanding bola 97 vs 98, nonton?"
"April, 30, 2001..HAPPY B'DAY DEAR POEJI...asik, makan-makan!!!"
"May, 7, 2001...a half year!!"

Ah, aku mellow kronis sekarang ^^

Lalu beberapa lirik lagu :
'Dan' SO7, di bagian bawah kertas tertulis July 20, 1999 dan sebuah tempelan kulit kerang yang entah dari mana. Apa dari meru betiri ya?
'With You' Boyzz Bario, July 27 1999. Midnite song ketika belajar di Ciheulang.
'Meniti Pelangi' Andhien, 'Sendiri' Coklat, 'Nada Indah' Glenn, 'Kosong' Pure Saturday, 'We fly so close' Genesis, lagu-lagu KLA..

No wonder i was so messed up back then :)

Sebuah puisi yang kusalin dari buku puisi yang kubaca di perpustakaan British Council di ITB, my comfort zone selain meja-meja di lantai bawah Perpus, lapangan tenis depan SC Timur dan jogging track Sabuga.

Judulnya Night Physician.

I love the moon
sometimes as much as I love the sun.
The moon offers a place to hide-
the night rider who comforts me
when the sun has done with me.

Not always but more often than not
I am not quite sure
if the moon is friend or enenmy;
true, it does offer protection
from the public glare,
but it also locks me in myself,
makes me aware of how unimportant I am
and destroys all those high ideals I had.

That perhaps is where the moon becomes a true friend
for it reminds me of man's equality,
it breaks down fears and prejudices
and restores a man's belief in himself
and in his fellow man.
Night is the healer of the summer wounds
that patches up the sky
in readiness for the day.


Di halaman berikutnya sebuah puisi sisa-sisa patah hati yang kutulis di Jogja, Juni 2000.
Angin menerbangkanku sampai kesana
Alun-alun Suryakencana yang beku
semak-semak edelweiss yang tertidur
jejak setapak yang mengabur

Masih kudengar langkah-langkah kaki kita
berlari, melompati batu demi batu
menempuh satu tanjakan lagi
mencoba mengejar matahari
Lelah kaki, deru detak jantung,
kalah oleh inginku melihat keindahan Tuhan
yang selalu kelihat sambil mengenangmu.

Kita telah disana, sahabat tercinta.
Sungguh, Puncak Gede tak akan pernah seindah itu,
langitnya tak akan berwarna sebening itu,
matahari tak akan kurasakan sehangat pagi itu, 1 Agustus 1999.
Dan dirimu sahabat, tidak akan pernah lagi ada disampingku
seperti saat itu.

Perjalanan yang tidak ada akhirnya.
Dan ketika kita tidak lagi menolah ke belakang
yang kulakukan hanyalah mencoba mencapai puncak-puncak lainnya
menyelesaikan pendakian demi pendakian selanjutnya
dengan hanya berpijak di bumiku sendiri,
tanpa uluran tanganmu.

Dan angin kembali meniup wajah lelahku
menerbangkanku kesana
alun-alun suryakencana yang beku
semak-semak edelweiss yang tertidur
dan jejak setapak yang mengabur.

Geez..As cheesy as one two three ^^

Di bagian Address kubaca nama-nama familiar. Nomor telepon yang kalau ku-dial hampir pasti tidak akan diangkat oleh nama yang sama.

Artanti 022 -2516453
Cristin 022 -2501353
Deddy Wijaya 0274-864131
Erdhani 0274-868833
Estiworo Tyas 022 -2512737
Elis 021 -4714144
Gamet 022 -2509747
Ganthang 022 -2513407
Jupri 022 -6006328
May Sari 022 -6648168
Trisasi 0274-882639
Trisa 022 -2504366
Taryanto 022 -2503102
Wedha 022 -2515842


Di bagian finance, kutemukan post it kuning kecil dengan tulisan :

Kopi Papah 33.000
Makan makan 4.500
nelpon 600



Waktu itu tiap pulang ke Jogja aku selalu menelpon rumah dan nanya apa kopi papah masih ada. Biasanya aku membelikan kopi Arabica kesukaan Papah di sebuah toko kopi tua di daerah ABC. Bapak penjualnya pernah mengijinkan aku dan Papah masuk ke gudang penyimpanan dan pengolahan kopi yang remang dan harum.

Suatu hari kalau ke Bandung aku harus membeli kopi Arabika lagi..

Dan sekarang awan gelap di langit Balikpapan telah berubah menjadi hujan.

Saturday, January 31, 2009

January 31st (for my father)

Today is my father's birthday.

I still remember his face.
I still remember his voice.

I still remember how he explained the news in the newspapers when i was 6, since i read all kind of things back then.
I still remember how he told me that i could be anyone i wanted to be.
I still remember how he made a swing and a hammock for us in our backyard.
I still remember playing in the rain with him and my sisters.
I still remember how he used to stay behind his closed working room door for hours.

I still remember how he asked me to go study to other city when I was 12, to pursuit a better education.
I still remember how I missed my family a lot.
I still remember how lonely it was.

I still remember how I've became more independent year after year.
I still remember how i got angry when he didn't like my hiking and travelling hobby.
I still remember how unreal it felt when he was sick again.
I still remember I was standing in front of the phone, miles away from home, didn't know what to tell him. Didn't have a clue what to say to him.

I still remember how proud his face was, in my graduation. Just few months before that day.
That day, on October 2003, I still remember that I didn't have a chance to said thank you or i'm sorry.

Today would have been his 63rd birthday.

I wish he were here so i could give him a big hug.
i wish he were here to watch Damar and Dimas.

"Dear Lord, forgive me my sins, and the sins of my parents, have mercy on them both as they have looked after me when I was little" (A muslim prayer for her parents)

I miss you, Pah.

To everyone who read this :
Take your time to call your parents. Say hi. Say how much you love them.
Or just call them to hear their voices...

Friday, September 12, 2008

why do i write these words

I've been writing my journal since i was a little girl, perhaps 10 years old.
Aku menulis di buku-buku dengan sampul-sampul yang lucu dan indah selama sekolah, dan menulis di komputer pribadiku ketika kuliah. Maybe i'm not good at it but I love writing.
Tapi aku tidak pernah tertarik menjadi blogger. Sampai kira-kira beberapa bulan lalu.
Sebelum di Bintaro, kami berpindah-pindah. Sibuk dengan rumah, pekerjaan dan anak-anak, tidak sempat (dan tidak kenal) dengan internet. Kadang keseharianku dibatasi oleh 4 dinding rumah, and well, I was a little bit frustrated sometime (just ask my hubby,he knew it!hehehe...).

Maret 2008 kami pindah ke rumah baru di Althia Park, Bintaro. Ukurannya kecil tapi karena terletak di sudut dan disamping taman jadi kami jatuh cinta dan betah disini.
Akhirnya setelah 5 taun lulus dari kuliah aku kembali menyentuh internet, and here I am.
Mencuri waktu ketika Damar dan Dimas tidur, sambil menepuk-nepuk nyamuk,
di depan komputer dan monitor tua yang sama yang kugunakan ketika menulis Tugas Akhir,
komputer intel celeron yang sama yang digunakan almarhum Papah beberapa tahun yang lalu.

Inspired by Ifa, temen SMP dulu di Jogja, "Ayo Diah, nulis. Biar ntar blognya buat dibaca anak-anak kalau dah gede!"
Juga karena aku tersadar sering meng-google nama Mohammad Amang tapi tetap tidak menemukan apa-apa...
I'm looking for my father's footprints, I'm looking for something that reminds me of him...
cause right now, i don't even have his photograph.

Aku harus ingat untuk menanyakan foto papah ke mamah ketika aku pulang ke jogja lebaran ini.
Bukan berarti jejak langkah itu sama sekali menghilang. Kupikir kenangan itu selalu ada ketika aku memandang anak-anakku. Juga ketika aku melihat tumpukan buku di rumah.
Aku ingat aku dan saudara-saudaraku tumbuh bergelimang buku. Kami jarang jalan-jalan atau makan di luar, tapi buku? Dari mulai majalah, buku-buku enid blyton, dongeng hans andersen, serial STOP, Pippi Longstocking, ensiklopedia, otobiografi hoegeng, Kuantar kau ke gerbang (yang membuatku sebal dengan Bung Karno...), sampai buku-buku tua yang kuambil dari bagian teratas lemari papah di ruang tamu rumah Samarinda dulu.
Buku-buku itu sekarang memang sudah tidak kusimpan, karena dulu setiap pulang ke Melak atau orang Melak datang berkunjung ke Samarinda buku-buku berharga itu akan berpindah tangan.
Baru kusadari, kecintaanku pada buku, dulu dan sekarang, adalah warisan yang tidak ternilai.
Jejak itu juga terlintas ketika aku melangkah sekarang sebagai seorang ibu, istri, sebagai seorang manusia. Kata-kata dan perbuatan kedua orang tuaku telah membekas dalam dan membentuk siapa aku sekarang.

Jadi, aku menulis lagi.
dan suatu hari nanti, entah kapan, ketika Damar dan Dimas membutuhkannya,
mereka akan menemukan kami dimana-mana ^_^
Just do your best and live your best life, my sons...
Be strong, kind, and good persons.
i love you so much.






Monday, September 1, 2008

In The Living Years

I'm always a big fan of Mike & The Mechanics.
I love 'over my shoulders' and 'in the living years' since i was in middle school.



"Every generations
Blames the one before
And all of their frustrations
Come beating on your door
I know that I'm a prisoner
To all my Father held so dear
I know that I'm a hostage
To all his hopes and fears
I just wish I could have told him in the living years


Crumpled bits of paper
Filled with imperfect thought
Stilted conversations
I'm afraid that's all we've got
You say you just don't see it
He says it's perfect sense
You just can't get agreement
In this present tense
We all talk a different language
Talking in defence


say it loud, say it clear
You can listen as well as you hear
It's too late when we die
To admit we don't see eye to eye


So we open up a quarrel
Between the present and the past
We only sacrifice the future
It's the bitterness that lasts
So Don't yield to the fortunes
You sometimes see as fate
It may have a new perspective
On a different day
And if you don't give up, and don't give in
You may just be O.K.


Say it loud, say it clear
You can listen as well as you hear
It's too late when we die
To admit we don't see eye to eye"


I wasn't there that morning
When my Father passed away
I didn't get to tell him
All the things I had to say
I think I caught his spirit
Later that same year
I'm sure I heard his echo
In my baby's new born tears
I just wish I could have told him in the living years





The first night of Ramadhan, 5 years ago, my dad passed away.
October 25, 2003 i think.
I was in Balikpapan when my mom told me to go home to jogja,
i arrived in jogja at magrib time, hoping to see him again.
But i never had a chance to say how much i love my dad.




I'm sorry, pah.


Who do I think when I remember him?
Someone so full of life.

Papah was someone who rode a bike to Bali with his friends when he was in senior high school,
tapi sempat marah ketika aku minta sepeda untuk sekolah waktu SMP di Jogja.
"Anak perempuan kok naik sepeda, kalo ada apa-apa di jalan gimana?
Naik becak aja!"
Toh, akhirnya ijin keluar juga ^_^

Papah adalah seorang bapak yang membolehkan anak-anaknya bermain hujan waktu kami masih kecil di samarinda,
yang tidak ragu menyekolahkan anaknya sendirian ke Jawa begitu lulus elementary school,
yang setuju waktu anak perempuannya bercita-cita jadi atlet (walaupun ndak kesampaian...),
yang melarang aku ikut Pencinta Alam tapi akhirnya membelikanku tas carrier dan jaket gunung,
yang dengan cepat naik motor jam 1 malam keliling Jogja mencari apotik yang masih buka ketika aku diare,
yang sering marah-marah dan susah menunjukkan sisi emosinya yang lain (aku mirip papah ya?),
yang susah bersikap romantis terhadap mamah,
yang begitu bangga dengan anak-anaknya,
yang pencinta Inggris dan selalu menonton pertandingan di tv sendirian karena anak-anaknya ndak ada yang suka,

yang perokok berat sampai didiagnosa bone & lung cancer,
yang tidak pernah marah ketika IPK-ku ga naik-naik
dan selalu berpesan "just do your best,nin",
yang menghadiri wisudaku walau harus membawa-bawa oksigen,
yang terus tertawa waktu acara pernikahanku di rumah dan mengajak ngobrol teman-temanku,
yang meninggalkan kami semua pada usia 57 tahun.

Yang pasti sangat menyayangi Damar dan Dimas jika sempat melihat mereka...
My Dad was someone who asked his children to live an honest, humble, and meaningful life, no matter what...