Showing posts with label family. Show all posts
Showing posts with label family. Show all posts

Friday, October 9, 2009

A Not So Desperate Mommie

Ada perang besar akhir-akhir ini.
Antara Dimas dan the rest of pasukan D (plus mbak yuk).

Dimas Arga Nurtsany, jagoan kecil berambut ikal tipis itu sedang memasuki tahap pemberontakan. Ngga diajak jalan, nangis. Diajak jalan, nangis.
Dimasakin ikan, nangis. Dimasakin ayam, juga nangis.
Disuruh jangan nangis, tetep nangis. Disuruh nangis terus, tambah nangis.

I was wondering whether to collect his tears since the lack of water here.

Pagi ini, aku nyepeda ke warung untuk beli beras. Langit Balikpapan tidak seperti hari-hari sebelumnya, biru tanpa awan. A good day to eat ice cream with the space cadets. Jadi akhirnya pindahlah satu es krim coklat dan satu es krim strawberi ke tas belanjaan. Sampai di rumah es krim coklat langsung lenyap dimakan dimas yang memang sudah sebulan dilarang makan es krim karena batuk. Dan mulailah perang baru, on how to invade and occupy his brother ice cream.
Ketidakadilan itu kulawan dengan niat, kata-kata dan tindakan. Tindakan maksudnya time out di teras belakang.
Dan berakhir dengan tangisan disana-sini.
But, as usual, this time justice prevails.
Es krim Damar terselamatkan.

Key word is konsisten.
Dan non-violence. Ku-bold karena aku masih sering sekali harus berjuang sekuat tenaga menahan godaan untuk mencubit atau membentak. Saat-saat ketika anak 2 dan 5 tahun membuatmu merasa seperti anak 5 taun juga. Sama-sama ingin ngeyel, sama-sama ingin marah, sama-sama ingin mewek.

"Dimas, mamah ngga mau dipukul!"
"Imas mau mukul!"
"Mamah ngga mau!"
"Imas mau!"
"Ngga!"
"Mau!"

and so on...

Remember Gandhi said?
"I first learned the concepts of non-violence in my marriage."

A reminder for myself :
Bagaimana kita mengajarkan konsep non-violence ke anak-anak jika sebagai orangtua kita ngga bisa mencontohkan hal itu?
Satu cara jitu untuk menekan amarah adalah memposisikan diri kita di mata anak-anak. Apa yang dia liat di diri kita ketika pukulan, cubitan atau bentakan siap berterbangan?
Gabungan antara medusa, sadako dan dewi persik?

So, please, please...Gusti paringana sabar, paringana eling, sluman,slumun slamet donya akherat.

Children seldom misquote you. In fact, they usually repeat word for word what you shouldn't have said. -Anonymous



It's just another Friday.
I hope it'll be a good friday for everyone, including everyone in government (semoga tikus-tikus berkurang, I get sick reading the same news and watching the same face everyday), Padang, Kenya (I saw the malnutrition problem there in aljazeera yesterday), Jerusalem, Gaza, and in every corner of the world.

We'll be doing gardening and learning to do backyard composting tomorrow.

Monday, September 21, 2009

Pictures of Us

Katanya a picture is worth a thousand words.
Aku suka menulis, suka membaca juga. Aku suka mengambil foto, tapi ngga suka difoto. Konon, mataku keliatan lebih sipit kalo di foto...Nah. I lied. Mataku memang dari sananya sipit, seperti itu --> ~_~
Tolong jangan ditinggal lari atau sembunyi kalo aku ketawa.

Anyway, these days were quite...errr...interesting. At least for me.
There were goods, there were bads. There were cools, there were hots. There were laughters, there were tears.
But my mind is blank tonight, so I'll just put some pictures instead.

One of a million things to keep your kids busy.


Damar dan Dimas mbantuin masang lemari baru

Lebaran cookies time! One of our fave time.

A beautiful mess.

Jadi pasang indovision lagi. Demi playhouse disney. Demi liga Inggris.


Dimas : "Ini apa, om?"
Si Om : "Ini kabel"



Rahasia kue enak : eces Dimas.


Mommie : "lagi ngapain, nak?"
Tole Dimas : "lagi motong ikan paus"



Blue and green. A perfect match.


A small hill behind our home. Setiap merasa capek atau galau cukup memandang kesana...

Foto yang diambil oleh Damar dari tempat kita shalat Eid.


Early morning of Eid this year


You can't see it, but there's a beautiful thin crescent moon in the sky


the final shade of sunset


Kegiatan malam lebaran. Nungguin ember penuh. Great. And after that, night exercise. Good for your biceps.


Lebaran with no water. Back to basic, nggotong ember keluar masuk rumah.


And that's a wrap.
Eid Mubarak, everyone! May God bless us always.

I can hardly open my eyes...so ready to sleep and dream about Jogja.
You can hide now.

Friday, June 5, 2009

Reminiscing (warning : for mellow minds only)

Balikpapan mendung pagi ini.
Sambil menunggu listrik yang pagi-pagi masih dangdutan berkat maintenance genset aku merapikan tumpukan di bawah meja komputer. Dan menemukan organizer hitam lusuh jaman kuliah.

Di halaman pertama ada catatan kuliah Etika Bisnis Pak Raka "You don't have to cheat to win" dan "There is no right way to do a wrong thing". Atau "If you always confronted with easy choices you don't build a character".
Catatan ini kutulis di balik skrap PTI dengan tabel berisi 'Prefabrikasi', 'Fabrikasi' dan 'Assembly'lengkap dengan CO Saw, Circ. saw, Planner, Jointer, Disc Sand, dan Drill Press-nya... :)

Di halaman-halaman selanjutnya ada beberapa coret-coretan tentang
"asistensi SISPROD-12.30"
"tenis bareng mas ganthang!!"
"PR MI chapt 9-10"
"PR Mankua (2 biji!)->tighten"
"tanding bola 97 vs 98, nonton?"
"April, 30, 2001..HAPPY B'DAY DEAR POEJI...asik, makan-makan!!!"
"May, 7, 2001...a half year!!"

Ah, aku mellow kronis sekarang ^^

Lalu beberapa lirik lagu :
'Dan' SO7, di bagian bawah kertas tertulis July 20, 1999 dan sebuah tempelan kulit kerang yang entah dari mana. Apa dari meru betiri ya?
'With You' Boyzz Bario, July 27 1999. Midnite song ketika belajar di Ciheulang.
'Meniti Pelangi' Andhien, 'Sendiri' Coklat, 'Nada Indah' Glenn, 'Kosong' Pure Saturday, 'We fly so close' Genesis, lagu-lagu KLA..

No wonder i was so messed up back then :)

Sebuah puisi yang kusalin dari buku puisi yang kubaca di perpustakaan British Council di ITB, my comfort zone selain meja-meja di lantai bawah Perpus, lapangan tenis depan SC Timur dan jogging track Sabuga.

Judulnya Night Physician.

I love the moon
sometimes as much as I love the sun.
The moon offers a place to hide-
the night rider who comforts me
when the sun has done with me.

Not always but more often than not
I am not quite sure
if the moon is friend or enenmy;
true, it does offer protection
from the public glare,
but it also locks me in myself,
makes me aware of how unimportant I am
and destroys all those high ideals I had.

That perhaps is where the moon becomes a true friend
for it reminds me of man's equality,
it breaks down fears and prejudices
and restores a man's belief in himself
and in his fellow man.
Night is the healer of the summer wounds
that patches up the sky
in readiness for the day.


Di halaman berikutnya sebuah puisi sisa-sisa patah hati yang kutulis di Jogja, Juni 2000.
Angin menerbangkanku sampai kesana
Alun-alun Suryakencana yang beku
semak-semak edelweiss yang tertidur
jejak setapak yang mengabur

Masih kudengar langkah-langkah kaki kita
berlari, melompati batu demi batu
menempuh satu tanjakan lagi
mencoba mengejar matahari
Lelah kaki, deru detak jantung,
kalah oleh inginku melihat keindahan Tuhan
yang selalu kelihat sambil mengenangmu.

Kita telah disana, sahabat tercinta.
Sungguh, Puncak Gede tak akan pernah seindah itu,
langitnya tak akan berwarna sebening itu,
matahari tak akan kurasakan sehangat pagi itu, 1 Agustus 1999.
Dan dirimu sahabat, tidak akan pernah lagi ada disampingku
seperti saat itu.

Perjalanan yang tidak ada akhirnya.
Dan ketika kita tidak lagi menolah ke belakang
yang kulakukan hanyalah mencoba mencapai puncak-puncak lainnya
menyelesaikan pendakian demi pendakian selanjutnya
dengan hanya berpijak di bumiku sendiri,
tanpa uluran tanganmu.

Dan angin kembali meniup wajah lelahku
menerbangkanku kesana
alun-alun suryakencana yang beku
semak-semak edelweiss yang tertidur
dan jejak setapak yang mengabur.

Geez..As cheesy as one two three ^^

Di bagian Address kubaca nama-nama familiar. Nomor telepon yang kalau ku-dial hampir pasti tidak akan diangkat oleh nama yang sama.

Artanti 022 -2516453
Cristin 022 -2501353
Deddy Wijaya 0274-864131
Erdhani 0274-868833
Estiworo Tyas 022 -2512737
Elis 021 -4714144
Gamet 022 -2509747
Ganthang 022 -2513407
Jupri 022 -6006328
May Sari 022 -6648168
Trisasi 0274-882639
Trisa 022 -2504366
Taryanto 022 -2503102
Wedha 022 -2515842


Di bagian finance, kutemukan post it kuning kecil dengan tulisan :

Kopi Papah 33.000
Makan makan 4.500
nelpon 600



Waktu itu tiap pulang ke Jogja aku selalu menelpon rumah dan nanya apa kopi papah masih ada. Biasanya aku membelikan kopi Arabica kesukaan Papah di sebuah toko kopi tua di daerah ABC. Bapak penjualnya pernah mengijinkan aku dan Papah masuk ke gudang penyimpanan dan pengolahan kopi yang remang dan harum.

Suatu hari kalau ke Bandung aku harus membeli kopi Arabika lagi..

Dan sekarang awan gelap di langit Balikpapan telah berubah menjadi hujan.

Monday, June 1, 2009

Laki-laki Paling Baik

Kasus Manohara Odelia Pinot sedang heboh-hebohnya.
Dan semua orang (termasuk saya ^^) sibuk berkomentar. Ada yang kasihan, ada yang mencela Malaysia, ada yang mengutuk KBRI di Malaysia dan Singapura, ada yang menghina si Ibu, bla bla bla...
Ah, yang penting dia sudah pulang.

Tapi sda beberapa hal yang menjadi pemikiranku.

Pertama, bagaimana kedutaan negara kita melindungi warganya di luar negeri. Sudah menjadi rahasia umum bagaimana buruknya kedubes dalam mewakili kepentingan TKI/TKW di luar negeri. KBRI di Malaysia pernah (atau masih?) menjadi sarang koruptor yang mengambil uang jerih payah pekerja migran kita. Dalam kasus Manohara ini dikatakan KBRI Singapura sempat menolak permintaan tolong Manohara dengan mengatakan "Hari Minggu kami libur, telpon lagi hari Senin."

Kedua, bagaimana institusi pernikahan yang seharusnya menjadi sarana untuk menuju kebaikan dapat berjalan sangat salah. Yaitu ketika agama tidak lagi menjadi pegangannya.

Beberapa contoh kejadian dengan latar belakang agama:

Seorang ustad muda yang sering muncul di infotaiment pernah berbicara di depan kamera "Jika seorang istri mengetahui betapa mulianya kedudukan suami di mata Allah, maka dia tidak akan mau menentangnya".

Seorang suami menghendaki istri untuk memilih antara menemani suami atau orangtua istri yang sedang sakit keras. Hal ini menyebabkan sang Istri memilih menemani suami dan tidak sempat bertemu lagi dengan Ayahnya.

Di mana Islam berperan di kejadian-kejadian di atas?

Dalam pengertianku Islam adalah Sunnah of Love, seperti yang ditulis Hymie Ali di blognya. Dan Tuhanku adalah Tuhan Yang Paling Penuh Kasih Sayang. Karena itu tidak ada manusia yang lebih rendah dari manusia lain. EQUALITY adalah hal yang sangat ditekankan dalam Islam.

Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa :
... Even as the fingers of the two hands are equal, so are human beings equal to one another. No one has any rights, any superiority to claim over another. You are as brothers. O men, your God is One and your ancestor is one. An Arab holds no superiority over a non-Arab, nor a White over a Black person, nor vice-versa, but only to the extent to which he discharges his responsibility to God and man. Only the God-fearing people merit a preference with God.


Dan bahwa belajar adalah kewajiban bagi setiap muslim, baik perempuan maunpun laki-laki. Jadi ketika di suatu sudut dunia ada sekelompok orang yang melarang anak perempuan bersekolah, bahkan menyiram mereka dengan air keras, itu bukan Islam.

Dalam lingkaran kehidupannya, seorang wanita dapat menjadi tiga peran :

1. Sebagai anak perempuan.
Nabi Muhammad mengatakan : 'He who brings up his daughters well, and makes no distinction between them and his sons, will be close to me in Paradise.'

2. Sebagai istri.
'The best from among you is one who behaves best towards his wife.' (Hadith)

3. Sebagai ibu.
Kita semua pernah mendengar bahwa 'Surga ada di telapak kaki ibu' dan bahwa Nabi Muhammad menekankan kata 'Ibu' tiga kali sebelum menyebut kata 'Bapak'. Dan ini berlaku untuk semua, tidak peduli gendernya. Jadi jika ada suami yang menghalangi istrinya untuk berbakti kepada orangtuanya, rasanya itu bukanlah suami yang sebaiknya diikuti dan 'tidak ditentang'. Karena kewajiban seorang istri terhadap suami tidak boleh menghilangkan hak orangtua terhadap anaknya. Begitu juga sebaliknya.

Nabi Muhammad adalah seorang suami yang tidak malu membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Beliau rela tidur di depan pintu rumah daripada membangunkan istrinya. Dan tidak pernah memaksakan kehendak. Bahwa dalam Islam pekerjaan domestik dan mendidik anak adalah PEKERJAAN. Yang bahkan lebih berat dari pekerjaan di luar rumah.

Jika sudah ada contoh sedemikian jelasnya, kenapa masih terjadi kekerasan dalam rumah tangga? Dan ketika telah terjadi kekerasan dan kriminalitas seperti itu kenapa masih ada yang membela pelaku kekerasan dan menyalahkan korban?
Ketika di dalam rumah sendiri tidak dapat dijalankan syariah yang benar bagaimana syariah dalam konteks yang lebih luas dapat dijalankan?

Anak-anak harus diberi pemahaman sejak dini, bagaimana menghormati orang lain. Anak-anak laki-laki harus mengerti bagaimana menghormati dan melindungi ibu dan saudara-saudara perempuan mereka. Untuk selalu berkata-kata baik dan siap menolong. Dan bagaimana mereka memperlakukan wanita di kemudian hari adalah cerminan perlakuan hormat mereka kepada ibu dan saudara perempuan mereka.

Anak-anak perempuan ditanamkan pentingnya pendidikan dan berpikir mandiri. Bahwa dengan segala kewajiban dan hak-haknya mereka adalah manusia yang sama indah dan mulianya dengan kaum laki-laki. Dan di masa depan mereka tidak akan membiarkan diri mereka diperlakukan tidak baik oleh siapapun juga.

Jadi, next time ada yang menyakiti atau memaksakan kehendak kepada istrinya, orang itu pasti lupa bahwa laki-laki termacho, teristimewa, terbaik adalah laki-laki yang paling lembut dan paling sayang terhadap keluarganya...
Sebaliknya, perempuan yang paling baik juga yang paling sayang sama suami dan anak-anaknya ^^

Ini adalah sebagian percakapan seorang Bedouin dengan Rasulullah (Khalid ibn al Walîd):

Q: I wish to be the richest man in the world.
A: Be contented, and you will be the richest man in the world.

Q: I'd like to be the most just man.
A: Desire for others what you desire for yourself, and you will be the most just of men.

Q: I want to be the best of men.
A: Do good to others and you will be the best of men.

Walahualam.

Thursday, April 2, 2009

Sh***!



Ha!
Something happened tonight.
Ceritanya anak-anak lagi bikin konser. Ada kaleng bekas twister, ada toples kerupuk, ada panci, ada sendok...
And as usual, Dimas mulai bosan dengan instrumennya dan mulai menjarah alat musik mas Damar. Insiden pertama Damar cuma diam dan pindah ke panci lainnya. Dimas kukasih first warning. Insiden kedua Damar mendesah panjang dan Dimas dapat second warning. Insiden ketiga aku lupa nge-warning Dimas karena aku mendengar Damar bilang "Sh***!"

What??? Sh***????
I'm pretty sure we never said that "S" word in our home.

Akhirnya terjadilah interogasi seperti ini.

Aku : "Damar tadi bilang apa, nak?"
Damar : "Sh***."
Aku : "Apa?"
Damar : "Sh***, Mamaaahhh!"
Aku : "Sh**?"
Damar : "Iya. Sh***."
Aku : "Artinya apa itu, nak?"
Damar : "Domba, Mamaaahhh."

............
Phewww.
Ya begitulah. Aku masih ngga tau darimana Damar bisa menggunakan kata Sheep untuk situasi seperti itu. He must've been heard it from someone and somewhere, of course.
But my lesson for today, jangan berburuk sangka. And walk your talks. Really.

S is for Sheep, Mom!

Friday, March 13, 2009

No Parents Zone

Sebagai full time mom, atau housewife, atau Ibu Rumah Tangga (you name it...), salah satu kerjaan sehari-hari adalah antar jemput sekolah. Damar sekarang sekolah di PlayGroup dekat rumah. Dan karena malas bolak-balik biasanya aku akan menunggu di luar pagar sekolah dengan berbekal bacaan atau sekadar mp3 player. Lebih sering sendirian. Tapi jika ibu-ibu yang lain ada yang nunggu juga biasanya pojok di bawah pohon mangga tempat para penunggu akan ramai. Seperti hari ini. Obrolannya berkisar dari politik, buku, fikih seksual (ah...^^), dan bagaimana cara menyita hp anak SMP kelas 2 yang mulai ada video pornonya >,<
Yang terakhir adalah dilema dari temanku yang anak tertuanya sudah remaja. Hmmm...dipikir-pikir, sebenarnya masalah Dimas mogok mandi atau Damar ngga mau makan tempe belum ada apa-apanya ya...

Anyway, sharing dan guyon emak-emak begini lumayan memberi pencerahan. Apalagi karena sehari-hari yang dihadapin adalah dapur, kompor, wortel, pampers, ompol dan anak umur 2 dan 4 taun yang sering terlalu sibuk menyusun balok kayu atau lego sehingga ngga denger mamahnya ngajak ngomong. Ah, my precious dynamic duo ^^

Hari ini ketika bermain di halaman sekolah Damar dipukuli oleh seorang temannya sementara guru-guru tidak melihat. Damar hanya nangis. Dia salah satu dari sekian anak yang ngga pernah memukul. Reaksi pertamaku adalah lari masuk ke dalam halaman, memegangi tangan anak itu dan bilang "Tidak boleh mukul!" Lalu aku peluk Damar dan bilang "Jangan diam saja kalo Damar dipukul ya". Akhirnya kuserahkan pada gurunya dan kulihat Damar dan anak yang memukulnya tadi bersalaman.

To be honest, I was angry. Aku emosi sama anak 3,5 taun. Malu-maluin...
Jadi my lesson today, stay out from No Parents Zone. Minta gurunya lebih mengawasi anak-anak dan keluar saja. Kita tidak akan bisa mengawasi anak kita 24 jam seumur hidupnya. Berikan bekal buat mereka mandiri dan berani membela diri sendiri. Teach them compassion and common sense. Bagaimanapun juga itu tugas kita sebagai orangtua. It's another never ending journey.


Monday, March 9, 2009

Anti Korupsi Versi Dewo

Long weekend...di rumah saja.
Nanti sore mau ngajak anak-anak berenang ^^

Ada pengalaman Dewo yang menarik. Kejadiannya malam Sabtu kemaren di jalan tol menuju kota. Karena terdorong ke bahu jalan oleh truk Dewo disuruh menepi oleh polisi. Dan sempat ngotot-ngototan sama pak polisi selama 30 menit.

Kira-kira seperti ini.
Pak Pol : Bapak saya tilang ya, silahkan ke pengadilan tanggal 20 Maret.
Dewo : Wah Pak, saya terima ditilang tapi tanggal segitu saya sudah di Kalimantan.
Gimana kalo saya bayar di ATM saja?
Pak Pol : Udah ngga bisa Mas Dewo, sekarang semua harus ke pengadilan.
Dewo : Kalo gitu sidang sebelum tanggal 20 saja, pak.
Pak Pol : Wah, ngga bisa
Dewo : Kalo gitu saya nitip bapak saja, saya minta tanda terimanya.
Pak Pol : Wah, ngga bisa pak. Udah deh, saya bantu saja.
Dewo : Ha? Bantu bagaimana Pak? Lha, saya mau bayar tilang kok.

Akhirnya setelah bolak-balik seperti itu setengah jam di tengah kemacetan jalan tol, temannya yang dari tadi duduk di dalam mobil polisi keluar dan bisik-bisik sama polisi satunya.
Endingnya? "Udah Pak, pergi saja deh!"

Lho?
Jadi sebenarnya gimana sih, Pak Polisi?
Garuk-garuk kepala...

Adakah yang bisa ngasih info terbaru tentang pertilangan?

Anyway, I'm so proud of my husband ^^
Say no to corruption, start from tiny little things.

Wednesday, February 18, 2009

Kids Can Be Cruel



Yup. Itu Damar. Ketiga dari bawah.
Happy as it seems.

Tapi kemarin, ketika nemenin Damar main di taman, aku mendengar dua orang anak laki-laki cowok di kompleks (5 dan 6 tahun) berkata: "Ah, ngga mau ah, maen sama kamu! Kamu aneh!", dengan tampang se-you're-nerd-stay-away, mungkin.
Saat itu Damar sedang ngeliatin anak-anak yang lagi maen sambil pura-pura motret pake mainan kalengnya.
Waktu damar bilang, "Say cheese!" sambil 'motret', anak-anak itu ngetawain lagi, "Aneh! Aneh!"

Damar? As usual cuma diam. Ngga terlihat tertekan atau sedih atau marah.
Lima menit kemudian dia sibuk motret-motret lagi.

Well, kids.

By the way, akhir-akhir aku sering nulis tentang Palestina. Bukan kenapa-kenapa sih, memang itulah yang ada di kepalaku. Dan karena ada beberapa teman blogger di luar Indonesia, jadi sedikit banyak kucoba nulis dengan bahasa Inggris.
Beberapa tulisan tentang agama, satu tulisan tentang orang-orang Rohingya (sangat-sangat berempati sama mereka...), satu dua tulisan tentang Pemilu dan korupsi.

Wew, ternyata banyak sekali yang bisa ditulis...PRku banyak juga ^^

Semacam kliping buat Damar dan Dimas nantinya.

And for now, I guess I want to read my dynamic duo this poem:


I'm Glad I'm Me
by Phil Bolsta


--------------------------------------------------------------------------------
I don’t understand why everyone stares
When I take off my clothes and dance down the stairs.
Or when I stick carrots in both of my ears,
Then dye my hair green and go shopping at Sears.
I just love to dress up and do goofy things.
If I were an angel, I’d tie-dye my wings!
Why can’t folks accept me the way that I am?
So what if I’m different and don’t act like them?
I’m not going to change and be someone I’m not.
I like who I am, and I’m all that I’ve got!



(http://www.gigglepoetry.com)

Monday, February 2, 2009

Ketika Aku Tidak Menulis

Ketika aku capek dan 'my body is not so delicious' (ckckckc...),
ketika batere alkaline-nya Damar Dimas tidak perlu di-charge seharian,
ketika asisten andalanku, Mbak Yuk, pulang kampung nengok Putri tercintanya,
ketika aku pikir aku ndak bisa menulis.

Aku menulis lagi.

Hanya melepaskan diri dari mengepel susu tumpah,
mengelap ingus dan muntah,
mengganti baju dan celana yang basah,

Hanya libur sebentar dari membujuk Damar makan wortel,
menghela nafas waktu Dimas cuma mau baksonya dan menolak kol,
menahan nafas ketika mereka kejar-kejaran dan berakhir dengan Dimas koprol,

Hujan deras seharian,
ndak sempat ngeluarin jemuran,
Jakarta banjir dan macet, jadi semacam kebiasaan.
Like my mom in law said when we moved 'temporarely' to this city, "you'll get used to it"
Pehuleesss....

Masak perkedel kentang dan sup di dapur sementara anak-anak menaburkan semua jenis barang di penjuru rumah. Termasuk coco crunch dan jeruk.
Mengalah ketika Dimas mengganti 'Tak ada yang bisa'nya Andra & The Backbone di RCTI dengan dvd Pak Pos Pat.
Mengunci pintu kamar jam 3 siang, dan tertidur sejam sementara anak-anak masih melompat-lompat di atasku.
Hmmmm, gimana caranya supaya batereku lebih long lasting dibanding batere mereka....

Jam 10 malam.

The boys are sleeping now. All of them. Including their dad.

Yayyyy!!!!!

Introspeksi hari ini : Harus lebih sabar.

Saturday, January 31, 2009

January 31st (for my father)

Today is my father's birthday.

I still remember his face.
I still remember his voice.

I still remember how he explained the news in the newspapers when i was 6, since i read all kind of things back then.
I still remember how he told me that i could be anyone i wanted to be.
I still remember how he made a swing and a hammock for us in our backyard.
I still remember playing in the rain with him and my sisters.
I still remember how he used to stay behind his closed working room door for hours.

I still remember how he asked me to go study to other city when I was 12, to pursuit a better education.
I still remember how I missed my family a lot.
I still remember how lonely it was.

I still remember how I've became more independent year after year.
I still remember how i got angry when he didn't like my hiking and travelling hobby.
I still remember how unreal it felt when he was sick again.
I still remember I was standing in front of the phone, miles away from home, didn't know what to tell him. Didn't have a clue what to say to him.

I still remember how proud his face was, in my graduation. Just few months before that day.
That day, on October 2003, I still remember that I didn't have a chance to said thank you or i'm sorry.

Today would have been his 63rd birthday.

I wish he were here so i could give him a big hug.
i wish he were here to watch Damar and Dimas.

"Dear Lord, forgive me my sins, and the sins of my parents, have mercy on them both as they have looked after me when I was little" (A muslim prayer for her parents)

I miss you, Pah.

To everyone who read this :
Take your time to call your parents. Say hi. Say how much you love them.
Or just call them to hear their voices...

Monday, December 8, 2008

Ketika Dewo di rumah sakit

Sudah beberapa hari Dewo di rumah lagi.
Kinda back to our normal life again, all of us.
Aku gak bolak-balik rumah sakit dan rumah lagi. Anak-anak tidur dengan orangtuanya lagi. Dewo mulai bersuara ribut seperti biasanya lagi. Dan aku mulai bawel seperti aku lagi. Hehehehe....

Tau apa yang terburuk?
Ketika berdiri di sebelah tempat tidurnya di ruang UGD Fatmawati yang dingin, ngeliat tangan dan kakinya biru. Waktu itu Dewo ngga ingat apa yang udah dia tanyakan padaku 5 menit sebelumnya. Mukanya pucat, matanya kosong, dan aku mulai mikir apa yang terburuk yang bisa terjadi...

Alhamdulillah, Tuhan masih ngelindungin Dewo.
Malam itu, karena ngga tahan dengan kelambatan kerja perawat dan dokter di UGD Fatmawati aku mindahin Dewo ke Bintaro.
(Tapi Pak Satpamnya baik banget sama Damar ^_^
Terima Kasih, Pak Satpam UGD Fatmawati yang bertugas 1 Desember kemarin!)
Dan Damar dengan bahagianya bisa naik ambulans, kendaraan favorit kedua setelah mobil pemadam kebakaran.
Well, there's always a silver lining in every cloud for Damar. A lesson i should always remember.

Sepanjang malam itu, sejak Dewo nelpon jam 18.10 ngabarin kecelakaannya, sampai saat dia sudah tertidur di ruangan rawat inap Bintaro, rasanya sih aku gak sempet nangis. Apalagi panik. Di kepalaku cuma ada "what's next? what should i do next?"
Ituuu terus...
Dan, untung ada Ruwi dan Awe di Bintaro. Hehehe, dari dulu selalu "untung ada ruwi awe di bintaro!". Thanks, friends...

Sampai akhirnya jam 2 pagi aku duduk menggigil kedinginan di kamar, ngeliatin Dewo yg lagi tidur, dan i was feeling numb. So numbed, i was afraid to move.
Dan mungkin memang benar, good friends are like stars. You don't always see them, but you know they are always there.
Refleks nulis beberapa sms ke dua nama yang terpikirkan saat itu, dan akhirnya aku normal lagi. Bahkan bisa ketawa mbaca sms Sasi.

Thanks guys! If only you knew how much those messages meant to me that night...

Phew, mbrambangi aku jadinya... :P

Hari-hari di rumah sakit ngga terlalu buruk. Kecuali bagian kangen sama anak-anak. Pagi aku pulang, nganter Damar sekolah. Siang atau sore ngajak Damar (dan kadang Dimas) ke rumah sakit. Malam nganter damar pulang. Nungguin mereka tidur. Terus balik lagi buat nginep di rumah sakit. Bahkan ngga ngerasa capek, hehehe...

Kadang kerasa sekali hal-hal kecil ternyata sesuatu yang sangat menyenangkan.
Seperti berlari naik turun tangga 3 lantai di rumah sakit ketika beli makan atau majalah atau akan pulang dan datang.
Seperti merasakan hangat matahari di wajah ketika keluar dari gedung rumah sakit.
Seperti ngeliat sunset dan sunrise dari jendela kamar di lantai tiga.
Walo sunsetnya kalah sama gedung di seberang rumah sakit >,<
Seperti melihat Damar dan Dewo tiduran bareng sambil nonton film Hairspray.




sunrise dari jendela kamar dewo



sunset dari jendela kamar dewo

We're still here.
All of us.
Alhamdulillah.

Tuesday, November 11, 2008

Sendiri yang sepi

Tadi pagi bapake Damar Dimas berangkat ke Balikpapan. Cuma sampai besok malam sih...
Waktu tau papahnya mau pergi naik pesawat, Damar bilang begini,
" Pah, Damar mau ke rumah nenek di Jogja...naik Luthfansa!"
Kebanyakan mbaca (ngeliat-red) buku dia!

Hari ini sudah diisi dengan menyibukkan diri.
Mbayar air dan belanja berdua Damar. Seperti biasa kita belanja di Indomaret.
Selain dekat, juga tempat belanja favorit damar begitu dia tau lebahnya Indomaret namanya Domar.
Jingle-nya aja dia hapal...

"Indomaret dimana-mana, dekat anda semua suka
Indomaret untuk keluarga, melayani kebutuhan
Utama sehari-hari...Indomaret milik bersama
Indomaret pilihan tepat
Indomaret mudah dan hemat.... "

Hehehe, jadi iklan...

Anyway, udah sering banget aku dan dewo belanja disana. Tetap saja mereka masih heran kalo kita minta belanjaan dimasukin ke tas kain yang aku bawa. Dan aku mengulang lagi alasan "plastik di rumah dah banyak,mbak!" Hhhhhh....

Waduh...aku gak bisa nulis lagi nih.
Barusan Damar throw up, dah kubersihin sih.
Tapi baunya menguar. Campuran susu strawberry dan kue coklat yang sudah diproses 3 jam di perut anakku tersayang itu.
Sudah pengalaman dengan segala jenis muntahan selama 4 tahun kok ya masih pusing nyium bau muntah ya?
Pusyingg...

So, here I am. Writing on my own.
Biasanya ada yang ngintip-ngintip di balik pundak ( that would be Damar), atau narik-narik baju minta dicintai dan, of course, dineneni (that's definitely Dimas), atau nonton bola sambil bolak-balik koran terus mijet-mijet punggungku (who else? Dewo).

Sendiri yang sepi.
Sepi yang sendiri. Bahkan aku malas mendengarkan lagu.

Jadi inget tadi sore.
Smsku ke Dewo nanya kabar, dijawab dengan bersemangat, " Mau makan malam di dapen nih, sambil main bilyard!"
Saat itu aku sedang duduk di teras rumah sambil memandang hujan, merasakan angin dingin yang mengingatkanku pada angin di gunung, sendiri saja (anak-anak dikunci di dalam rumah sama mbak Yuk ^_^)

DAN MALAM INI AKU MELER!!!! Thanks to berdingin-dingin di teras rumah, hihihihi....

Suamiku sayang, berikan aku satu cuti naik gunung sebelum kita pindah lagi, dan rumah di balikpapan yang gak pake mati lampu 12 jam atau narik-narik selang dari rumah tetangga waktu PAM mati (dan bisa dipastikan selalu mati!). That's not too much to ask, is it? ( I know the answer : "Banyak amat mintanya...rumah yang kayak gitu di balikpapan kan cuma rumahnya ekspat!" Hehehehe....)

Pusyiingg...meleerrr....nguantuuukkkk....
Kuangen mamah... (mbok-mbokanne metu!)

Friday, September 12, 2008

Hari ini

Hari ini hari ke-12 puasa.
Dewo sudah keluar kota sejak Rabu pagi. Tadi dia menelpon dan bilang baru bisa pulang Selasa minggu depan (sigh...).

Padahal Damar sudah menunggu-nunggu Jumat malam :(

Entah kenapa kepergian Papahnya yang sekarang ini bikin Damar uring-uringan.
Waktu berangkat ke Medan subuh rabu kemarin Damar mengamuk! Sambil nenteng sandal dia lari mau masuk ke mobil kantor yang menjemput Dewo. Padahal biasanya kalau dewo mau berangkat kerja atau keluar kota Damar lempeng aja dan cuma minta oleh-oleh pesawat terbang (always!)


Dulu waktu masih sendiri atau setelah ada Damar, kepergian Dewo keluar kota selalu membuat rumah sunyi. Apalagi 5 tahun nikah kita terbiasa single fighters. Tidak ada orangtua atau saudara, tidak ada asisten di rumah. Just me or me and damar. Yang sama-sama diam.

Sekarang ada Dimas dan Mbak Yuk. Yang sama-sama rame :)


But, still...ada yang hilang. Yang bikin masak males.
Yang bikin hari terasa panjang, karena tidak ada yang ditunggu pulang kantor.
Weekend ini juga gak ada yang dibujuk buat jalan-jalan atau bangun pagi.

Huh...kok jadi ngelangut to ya...


Damar nanya kapan Papah pulang.
Kalau Dimas kayaknya masih sedikit cuek.
Cuman terkadang kalau terbangun malam dia langsung duduk sambil noleh kanan kiri.

Daddy,s sons...