Showing posts with label wandering. Show all posts
Showing posts with label wandering. Show all posts

Thursday, December 24, 2009

Spirit of Christmas

December this year reminds me of two sad things.
December 26th 2004, The Sumatra tsunami.
December 27th 2008, Gaza bombing.
*I'll leave century, kpk and lunmay thingies out of this note, sorry.

This is how christmas was in Gaza before the bombing, December 25th 2008 :


Christmas in Gaza: No Trees, No Celebrations

For the first time, Hazem Al-Jilda, a Christian from Gaza, and his family could not light the Christmas tree at their home because of the electricity black-out caused by the lack of fuel, due to the Israeli siege on Gaza.

'We only have electricity for six hours a day because Israel is not letting any fuel supplies into Gaza's only electric power plant,' said Al-Jilda (34). 'We missed the happiness of lightening the Christmas tree this year.'

'I have never seen such a sad Christmas,' he said. 'This year, there are almost no traditional Christmas celebrations in Gaza because of the siege and Israel's refusal to give Gaza's Christians permits to visit Bethlehem.

About 4,000 Christians live in the besieged Gaza Strip. Most of them belong to the Greek Orthodox Church, while the rest follow the Latin Church Christmas calendar, which falls on December 25.


Yea, as a matter o' facts, there are christians in Gaza. And they're suffer the same, since they too are Palestinians.

Anyway, we all know the story of Gaza after that christmas day.

This year, a true spirit of christmas
Christmas In Gaza by Fr John Dear, National Catholic Reporter

Into this world, this demented inn, in which there is absolutely no room for him at all, Christ has come uninvited. But because he cannot be at home in it, because he is out of place in it, and yet he must be in it, his place is with those others for whom there is no room. His place is with those who do not belong, who are rejected by power, because they are regarded as weak, those who are discredited, who are denied the status of persons, tortured, exterminated. With those for whom there is no room, Christ is present. -- Thomas Merton

In the true spirit of Christmas, on Christmas day I'll leave for Gaza to join some 1,300 people from 40 nations -- as well as an expected 50,000 Palestinians -- and together undertake a nonviolent march to the Erez northern border crossing leading into Israel. We'll arrive on the first anniversary of the diabolical Israeli bombing attack in which 1,400 Palestinians perished, the vast majority civilians.

The journey represents my attempt to break through the commercialism and sentimentality of Christmas. By this journey I’m trying, in a modest way, to enter the Gospel story itself, mindful that Christmas celebrates the God of peace having come to the poor, having emerged from among the poor. God emerged from among the marginalized, the homeless, the refugees, the outcast, the occupied, the targeted peoples of the world. I journey in the Christmas hope that "peace on earth" comes first of all in places like Gaza.


So, while most of us have already forgotten, some people remind us what humanity is all about. It's borderless.

There are too many people, and too few human beings. ~Robert Zend

Merry christmas, my friends.
May peace and justice prevail on earth.

Quote of the day : " When you are greeted with a greeting, greet in return with what is better than it, or at least return it equally…Surely, Allah takes account of all things.” (An-Nisa’ 4: 86)

Wednesday, December 9, 2009

Happy Anti Corruption Day

Kemarin aku menjemput Damar ke sekolah. Akhir minggu nanti akan ada pentas di mal (-.-'), memperingati (so-called) hari ibu. Selain nyanyi si Jegrak juga bakal baca puisi. Dan tidak ada yang lebih menghibur selain anak-anak umur 2-5 taun yang berlatih untuk pentas.

Ketika akan pulang dan membuka pintu mobil, seorang ibu tua berbaju lusuh dan menggotong karung menyapa, "Dek, mau mangga?". Jarang-jarang dipanggil dek..
Akhirnya aku dan Damar jongkok di pinggir jalan ngobrol sama ibu itu.
Rumahnya jauh. Satu plastik berisi 5 butir mangga dijual 12 ribuan. Sekarung mangga tadi dibeli dengan harga 85 ribu. Sekarung berisi belasan plastik.
Akhirnya kubeli mangganya seharga sebuah majalah national geographic traveller terbaru yang memuat 55 gunung terindah di indonesia.

Mahal? Tidak kalo mengingat si ibu tua ini naik-turun bukit-bukit di Balikpapan di bawah terik matahari Desember sambil menggotong karungnya.

Sebelum pulang aku dan Damar ke Hero dulu, mau beli jamur. We're addicted to mushroom lately. Seplastik seharga 15 ribu. Di persimpangan menuju Balikpapan Baru seorang anak berkulit hitan legam menawarkan korannya, "Cuma 2000, buk!". Di pinggir jalan ada anak lain yang lebih kecil, duduk sambil menyipitkan matanya karena terik.

Aku menyesal tidak membawa susu kotak di tasku.

I was just like any other hypocrit who felt sorry for them but didn't do a think to make things better.
That old woman, those street children, would they still be doing what they're doing if we're not one of the most corrupt country in the world?

I guess there's only one thing money won't buy, and that's poverty.

“Heaven is above all yet; there sits a judge.That no king can corrupt.”


Happy Anti Corruption Day.

Saturday, December 5, 2009

Question of The Day

Pernahkan kamu membaca quote ini,
Children find everything in nothing; men find nothing in everything.

Penulisnya adalah Giacomo Leopardi, seorang penyair dan filsuf Italia yang hidup pada tahun 1798-1837.

Ingatkah kita masa-masa kecil ketika hari dimulai dengan pertanyaan dan diakhiri dengan pertanyaan? Aku ingat pernah berpikir bahwa di salah satu bintang di atas sana ada seorang anak perempuan kecil yang sedang menatap ke bumi. Aku ngga ingat apakah pernah benar-benar bertanya pada orang lain.

Atau ketika saat ini kita cukup diberkahi untuk memiliki manusia-manusia kecil dengan tenaga kryptonit tak kenal lelah yang tak berhenti bergerak dan berbunyi, sempatkah kita berhenti sejenak merenungkan pertanyaan mereka?

"Mah, kenapa laba-labanya terbang?" ketika melihat laba-laba turun naik di dekat kasur mereka, tanpa terlihat benangnya.

"Kenapa kita ngga punya christmas tree?" sewaktu melihat pohon natal plastik di mal.

"Kenapa sampah dapur dikubur?" saat melihat rutinitas menggali-gali mamahnya.

Jadi teringat suatu siang waktu aku dan anak-anak nonton KBS, channel Korea, tentang multikultural family. Si istri berasal dari Bali dan tinggal di Korea Selatan mengikuti suaminya yang asli sana. Suatu saat berliburlah mereka ke Bali. Waktu ada adegan keluarga itu mengejar-ngejar babi untuk di-babi guling, anak-anak takjub. "Kasian!", kata Dimas waktu si babi diiket di tongkat.
Kemudian sampai ke adegan ketika si babi sudah matang kecoklatan dan mulai diiris-iris untuk dimakan bersama.
Tiba-tiba Dimas bilang, "Mamah, mau makan ituuu!!!", sambil nunjuk ke tipi.

That was an awesome moment.

"Kenapa ngga boleh?"

Ketika kita menghadapi pertanyaan-pertanyaan ajaib seperti itu, sebagai orangtua, dan manusia, kita diajak membuka kembali cakrawala pikiran kita. Dan keyakinan kita. Kita kembali dipertemukan dengan keraguan-keraguan yang dulu sebagai seorang anak kecil pernah kita rasakan.

Jika beruntung, kita akan bertemu dengan pertanyaan yang bahkan kita sendiripun masih mencari jawabannya. Bukan cuma pertanyaan kenapa adek bayi ada atau gimana tivi ada gambarnya..those are some pretty challenging questions too >.<

Tapi seperti ketika Sam, 11 tahun, di Ways to Live Forever (versi Indonesianya berjudul Setelah Aku Pergi, terbitan Gramedia) mempertanyakan Pertanyaan-Pertanyaan Tak Terjawab, The Questions That Nobody Answer, No. 6. "Kenapa sih orang mesti mati?"

Why Do We Have To Die Anyway?

Atau pertanyaan nomor dua, yang dicoba dijawab oleh Sam dan temannya Felix.

Questions Nobody Answers No.2, Why does God make kids get ill?
[proposed solutions]
1.He doesn’t exist. (Felix)
2.God is really evil. (Felix)
3.God is like a big doctor. It doesn’t matter to God if you die, because you just go to heaven, which is where He lives anyway.(Sam, to which Felix responds, “That is the biggest load of crap I ever heard. God gives you cancer to teach you how good riding a bike is?)
4.There is no reason. (Felix)
5.There is a reason, but we’re too stupid to understand it. (Sam)
6.We did something awful in the past life and this is punishment. (Felix, who insisted it be included as not to discriminate against Buddhists)
7.We’re perfect already. Being ill is like a present. Like...like a Get-Into-Heaven-Free Card. (Sam)


At the end of the day, nenek Sam menjelaskan bahwa kematian adalah seperti berubahnya ulat menjadi kupu-kupu. Bagaimana ulat merasa takut menjadi kepompong yang tertidur dan sendiri.

Menurut Sam,

What she means is, it’s the next stage in a life cycle. Like turning into Spider-Man was the next stage in Peter Parker’s life cycle. So you shouldn’t be frightened, you should be excited. But I’m not frightened anyway. It’s only going back to wherever you were before you were born and no one is frightened of before they were born.


All those quoestions.

Pertanyaan-pertanyaan 'aneh' yang ketika kita beranjak dewasa mungkin masih akan muncul di saat-saat yang sepi. Ketika menatap langit-langit kamar menjelang terpejam. Ketika menengadah ke bintang di langit kelam. Ketika terdiam dan menghela nafas panjang.

I really didn't mean to make some rhyme here. Bad habit -.-'

Tidak semua orang cukup beruntung untuk mempunyai tempat bertanya. Terutama pertanyaan-pertanyaan ajaib yang mengerutkan kening 99.99% orang yang mendengarnya. Dan kemudian menyarankanmu ke ustad atau ke psikiater dengan wajah khawatir.

We were often told not to ask anyway, when we were younger.

Jadi,
ketika manusia-manusia kecil itu bertanya, dengarkan dengan sepenuh hati. Semoga mereka mengantarmu ke jawaban dari keraguanmu sendiri.

"Kenapa kamu menikah?"
"Kenapa kamu punya anak?"
"Kenapa kamu beribadah atau tidak beribadah?"
"Kenapa kamu menangis atau tertawa?"
"Kenapa kamu mencintai atau membenci?"

"Untuk apa kamu hidup?"

Maybe I will make my own questions nobody answer one of these days.

Where am I? Who am I?
How did I come to be here?
What is this thing called the world?
How did I come into the world?
Why was I not consulted?
And If I am compelled to take part in it,
Where is the director?
I want to see him
~ Soren Kierkegaard

Sunday, November 22, 2009

Little Things, Always the Little Things.

Mark Twain said "Remember the poor, it costs nothing".

Apa sih, definisi "poor"? Miskin?
Hidup dibawah 1 $? Di bawah 2 $?
Tidak punya rumah? Tidak punya pekerjaan?
Hopeless? Homeless?

Jangan salah.
Ada yang merasa 'miskin' itu karena tidak punya mobil mewah.
Ada yang merasa 'miskin' ketika ngga bisa beli blackberry terbaru.
Ada yang merasa miskin karena ngga beli baju bermerek di mal.
Ada yang merasa miskin karena ngga dapet keistimewaan dan kemudahan yang dimiliki para pejabat dan orang 'hebat'.

Miskin karena selalu merasa kekurangan.

Tapi lupakanlah miskin yang itu, balik ke miskin yang ada di berita akhir-akhir ini.

Seorang nenek dipenjara karena 'memungut' 3 biji buah kakao.
Seorang kakek dipukul dan diseret karena menentang penggusuran.
Seorang PSK dibiarkan tenggelam di kali ketika sedang dikejar-kejar.
Aku yakin kalo digoogle maka akan panjang sekali daftarnya...

Dan tulisan kali ini bukanlah ingin membahas dari sudut hukumnya bla bla bla, karena sudah mahfum sekali bahwa hukum itu bukanlah keadilan. Law is not justice. It never is.
Tapi ingin bertanya pada sendiri, have I remembered enough.
Lebih lagi, have I done enough.

Seorang sahabat berkata,
"Dee, lahir-belajar jalan ngomong-tk-sd-smp-sma-kuliah-kerja-nikah-punya anak-memastikan anak mengikuti hal2 tersebut-mati adalah, devil cycle. I dont know where's thing 'so-called' life on that cycle"

Aku bilang, dia harus mengalami semuanya dulu baru bisa tau.

Dan dijawab,
"No i dont have to. Just by thinking about what our country had become. Its a sad fact that there's actually only few people give it a damn, because they been trapped on their own tired old line. There's no time to think about others. Let alone the nation. Busy to save their own asses, and they dont even realize that's what's happened. Its a false joy"

There. My life is a false joy.
And we're just some kinda robot.
How nice.
Just perfect for this gloomy cloudy november days.

Tapi tentu saja, ini harusnya suatu kritik membangun.
I'm still searching the constructive part.

Kritik membangunnya mungkin adalah bagaimana kita bertanya pada diri sendiri, "Apa yang salah dari komunitas kita? masyarakat kita? negara kita? Is it the custom? The education system? What?"
Jika belum terjawab, masih ada pertanyaan selanjutnya yang menunggu, "Apa solusinya?"

Aku selalu berpikir, sesuatu dimulai dari hal terkecil. Dari diri sendiri. Satu demi satu.
Klise.
Tapi sesuatu itu klise mungkin karena itu memang benar.
And yea, I haven't done enough. I'm crawling.

So, when my simple so-called life, with my simple kinda family, seems not enough..well, I cannot blame my idealistic sarcastic friend. We can always agree to disagree, right?
Just don't expect me to stop believing that maybe we, stupid silly nerdy simple people, can actually make a difference. By doing little things.

2 simple things to remember and share with dynamic duo (again):
1. Simpen krincing kita
2. Pisahin dan kurangi sampah dengan ngubur sampah dapur.

Last but never least...listen to your children. Respect them. So they'll listen and respect others.
Do you realize that your children spend less than 20 years with us, then go on to spend another 60 years, 70 years, 80 or maybe even more on this planet. What goes on in our home with them today seems so small it hardly even matters in the grand scheme of things. Yet what we do in our home can affect society for many years to come.

Itu salah satu solusiku, mate, ketika kamu nanya apa nanti Damar Dimas sempet mikirin negaranya.

Bertanya pada Damar the jegrag and Dimas the jambul.
Ketika mereka pengen roti tawar instead of nasi buat makan siang, aku bukan bilang, "Harus makan nasi! Mamah udah capek-capek masak! Arrgghh! Grrrr! Aum!" and so on.
Tapi aku bertanya, "kenapa ngga mau makan nasi?" dan dijawab Damar, "nanti mah, abis makan roti."

Pertanyaan. Jawaban.
Pilihan. Konsekuensi.

Semoga dengan memberikan mereka pertanyaan dan pilihan, someday when they're older, mereka bisa menentukan pilihan yang terbaik bukan cuman untuk diri mereka sendiri tapi juga lingkungan di sekitar mereka. Semoga mereka, entah itu mengikuti 'that tired old line' atau sebaliknya menjadi biksu selibat yang mengabdikan diri untuk menyelamatkan dunia, menjadi manusia yang bermanfaat.

This stupid simple me is still learning, for God sake!


(www.art.com)

Friday, October 9, 2009

A Not So Desperate Mommie

Ada perang besar akhir-akhir ini.
Antara Dimas dan the rest of pasukan D (plus mbak yuk).

Dimas Arga Nurtsany, jagoan kecil berambut ikal tipis itu sedang memasuki tahap pemberontakan. Ngga diajak jalan, nangis. Diajak jalan, nangis.
Dimasakin ikan, nangis. Dimasakin ayam, juga nangis.
Disuruh jangan nangis, tetep nangis. Disuruh nangis terus, tambah nangis.

I was wondering whether to collect his tears since the lack of water here.

Pagi ini, aku nyepeda ke warung untuk beli beras. Langit Balikpapan tidak seperti hari-hari sebelumnya, biru tanpa awan. A good day to eat ice cream with the space cadets. Jadi akhirnya pindahlah satu es krim coklat dan satu es krim strawberi ke tas belanjaan. Sampai di rumah es krim coklat langsung lenyap dimakan dimas yang memang sudah sebulan dilarang makan es krim karena batuk. Dan mulailah perang baru, on how to invade and occupy his brother ice cream.
Ketidakadilan itu kulawan dengan niat, kata-kata dan tindakan. Tindakan maksudnya time out di teras belakang.
Dan berakhir dengan tangisan disana-sini.
But, as usual, this time justice prevails.
Es krim Damar terselamatkan.

Key word is konsisten.
Dan non-violence. Ku-bold karena aku masih sering sekali harus berjuang sekuat tenaga menahan godaan untuk mencubit atau membentak. Saat-saat ketika anak 2 dan 5 tahun membuatmu merasa seperti anak 5 taun juga. Sama-sama ingin ngeyel, sama-sama ingin marah, sama-sama ingin mewek.

"Dimas, mamah ngga mau dipukul!"
"Imas mau mukul!"
"Mamah ngga mau!"
"Imas mau!"
"Ngga!"
"Mau!"

and so on...

Remember Gandhi said?
"I first learned the concepts of non-violence in my marriage."

A reminder for myself :
Bagaimana kita mengajarkan konsep non-violence ke anak-anak jika sebagai orangtua kita ngga bisa mencontohkan hal itu?
Satu cara jitu untuk menekan amarah adalah memposisikan diri kita di mata anak-anak. Apa yang dia liat di diri kita ketika pukulan, cubitan atau bentakan siap berterbangan?
Gabungan antara medusa, sadako dan dewi persik?

So, please, please...Gusti paringana sabar, paringana eling, sluman,slumun slamet donya akherat.

Children seldom misquote you. In fact, they usually repeat word for word what you shouldn't have said. -Anonymous



It's just another Friday.
I hope it'll be a good friday for everyone, including everyone in government (semoga tikus-tikus berkurang, I get sick reading the same news and watching the same face everyday), Padang, Kenya (I saw the malnutrition problem there in aljazeera yesterday), Jerusalem, Gaza, and in every corner of the world.

We'll be doing gardening and learning to do backyard composting tomorrow.

Friday, September 25, 2009

Aku Tidak Tahu

MONO
oleh Gunawan Muhammad

Pada suatu hari di abad ke-7, dua orang Madinah bertengkar. Yang satu Muslim dan yang satu lagi Yahudi. Yang pertama mengunggulkan Muhammad SAW ”atas sekalian alam”. Yang kedua mengunggulkan Musa. Tak sabar, orang Muslim itu menjotos muka Si Yahudi.

Orang Yahudi itu pun datang mengadu ke Nabi Muhammad, yang memimpin kehidupan kota itu. Ia ceritakan apa yang terjadi. Maka Rasulullah pun memanggil Si Muslim dan berkata:

”Janganlah kau unggulkan aku atas Musa. Sebab di hari kiamat semua umat jatuh pingsan, dan aku pun jatuh pingsan bersama mereka. Dan akulah yang pertama bangkit dan sadar, tiba-tiba aku lihat Musa sudah berdiri di sisi Singgasana. Aku tidak tahu, apakah ia tadinya juga jatuh pingsan lalu bangkit sadar sebelumku, ataukah dia adalah orang yang dikecualikan Allah”.

Riwayat ini dikutip dari Shahih Muslim, Bab Min Fadla’il Musa. Dalam buku Abd. Moqsith Ghazali yang terbit pekan lalu, Argumen Pluralisme Agama, hadis itu dituturkan kembali sebagai salah satu contoh pandangan Islam tentang agama yang bukan Islam, khususnya Yahudi dan Kristen.

Pada intinya, Moqsith, sosok tenang dan alim yang mengajar di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini, datang dengan pendirian yang kukuh: Islam adalah ”sambungan—bukan musuh—dari agama para nabi sebelumnya”, yang sering disebut sebagai agama-agama Ibrahimi.

Tapi yang bagi saya menarik adalah kata-kata Muhammad SAW yang dikutip di sana: ”Janganlah kau unggulkan aku atas Musa”, dan, ”aku tidak tahu…”.

Kini kata-kata itu tenggelam. Kini sebagian ulama merasa di atas Rasulullah: mereka merasa tahu keunggulan diri mereka. Mereka akan membenarkan Si Muslim yang memukul Si Yahudi. Mereka bahkan mendukung aniaya terhadap orang yang ”menyimpang”, walaupun orang lain itu, misalnya umat Ahmadiyah, membaca syahadat Islam.

Dari mana datangnya kekerasan itu?

Saya sering bingung. Satu kalimat suci terkadang bisa membuat orang jadi lembut, tapi satu kalimat lain dari sumber yang sama bisa menghalalkan pembunuhan.

Mungkin pada mulanya bukanlah agama. Agama, seperti banyak hal lain, terbangun dalam ambiguitas. Dengan perut dan tangan, ambiguitas itu diselesaikan. Tafsir pun lahir, dan kitab-kitab suci berubah peran, ketika manusia mengubah kehidupannya. Yang suci diputuskan dari bumi. Pada mulanya bukanlah Sabda, melainkan Laku.

Tapi juga benar, Sabda punya kesaktiannya sendiri setelah jadi suci; ia bisa jadi awal sebuah laku. Kekerasan tak meledak di sembarang kaum yang sedang mengubah sejarah. Ia lebih sering terjadi dalam sejarah Yahudi, Kristen, dan Islam: sejarah kepercayaan yang berpegang pada Sabda yang tertulis. Pada gilirannya kata-kata yang direkam beku dalam aksara itu menghendaki kesatuan tafsir.

Kesatuan: jangan-jangan mala itu datang dari angka ”satu”—dan kita harus bebas dari the logic of the One.

Kata ini dipakai Laurel C. Schneider dalam Beyond Monotheism. Pakar theologi itu menuding: ”Oneness, as a basic claim about God, simply does not make sense.” Dunia sesungguhnya melampaui ke-satu-an dan totalitas.

Schneider menganjurkan iman berangkat ke dalam ”multiplisitas”—yang tak sama artinya dengan ”banyak”. Kata itu, menurut dia, mencoba menamai cara melihat yang luwes, mampu menerima yang tak terduga tak berhingga.

Tapi Schneider, teguh dalam tradisi Ibrahimi, menegaskan ”multiplisitas” itu tak melenyapkan yang Tunggal. Yang Satu tak hilang dalam multiplisitas, hanya ambyar sebagaimana bintang jatuh tapi sebenarnya bukan jatuh melainkan berubah dalam perjalanan benda-benda planeter.

Dengan kata lain, tetap ada ke-tunggal-an yang membayangi tafsir kita. Bagaimana kalau terbit intoleransi monotheisme kembali?

Saya ingat satu bagian dalam novel Ayu Utami, Bilangan Fu. Ada sebuah catatan pendek dari tokoh Parang Jati yang bertanya: ”Kenapa monotheisme begitu tidak tahan pada perbedaan?” Dengan kata lain, ”anti-liyan”?

Pertanyaan itu dijawab di catatan itu juga: sikap ”anti-liyan” itu berpangkal pada ”bilangan yang dijadikan metafora bagi inti falsafah masing-masing”. Monotheisme menekankan bilangan ”satu”. Agama lain di Asia bertolak dari ke­tiadaan, kekosongan, sunyi, shunyat, shunya, sekaligus keutuhan. ”Konsep ini ada pada bilangan nol,” kata Parang Jati.

Bagi Parang Jati, agama Yahudi, pemula tradisi monotheisme, tak mampu menafsirkan Tuhan sebagai Ia yang terungkap dalam shunya, sebab monotheisme ”dirumuskan sebelum bilangan nol dirumuskan”.

Ada kesan Parang Jati merindukan kembali angka nol, namun ia tak begitu jelas menunjukkan, di mana dan bila kesalahan dimulai. Ia mengatakan, setelah bilangan nol ditemukan, manusia pun kehilangan kualitas yang ”puitis”, ”metaforis” dan ”spiritual” dalam menafsirkan firman Tuhan. ”Ketika nol belum ditemukan,” tulis Parang Jati, ”sesungguhnya bilangan tidaklah hanya matematis.”

Dengan kata lain, mala terjadi bukan karena angka satu, melainkan karena ditemukannya nol. Tapi Parang Jati juga menunjukkan, persoalan timbul bukan karena penemuan nol, melainkan ketika dan karena ”shunya menjadi bilangan nol”.

Salahkah berpikir tentang Tuhan sebagai nol? Salahkah dengan memakai ”the logic of the One”?

Di sebuah pertemuan di Surabaya beberapa bulan yang lalu saya dapat jawab yang mencerahkan. Tokoh Buddhisme Indonesia, Badhe Dammasubho, menunjukkan bahwa kata ”esa” dalam asas ”Ketuhanan yang Maha Esa” bukan sama dengan ”eka” yang berarti ”satu”. Esa berasal dari bahasa Pali, bahasa yang dipakai kitab-kitab Buddhisme. Artinya sama dengan ”nirbana”.

Setahu saya, ”nirbana” berarti ”tiada”. Bagi Tuhan, ada atau tak ada bukanlah persoalannya. Ia melampaui ”ada”, tak harus ”ada”, dan kita, mengikuti kata-kata Rasulullah, ”aku tidak tahu”.


~Majalah Tempo Edisi 02 Maret 2009~

Agama seharusnya menjadi sumber kedamaian di muka bumi. Kita, si manusia lah, yang menciptakan siklus kebencian.

Monday, September 21, 2009

Pictures of Us

Katanya a picture is worth a thousand words.
Aku suka menulis, suka membaca juga. Aku suka mengambil foto, tapi ngga suka difoto. Konon, mataku keliatan lebih sipit kalo di foto...Nah. I lied. Mataku memang dari sananya sipit, seperti itu --> ~_~
Tolong jangan ditinggal lari atau sembunyi kalo aku ketawa.

Anyway, these days were quite...errr...interesting. At least for me.
There were goods, there were bads. There were cools, there were hots. There were laughters, there were tears.
But my mind is blank tonight, so I'll just put some pictures instead.

One of a million things to keep your kids busy.


Damar dan Dimas mbantuin masang lemari baru

Lebaran cookies time! One of our fave time.

A beautiful mess.

Jadi pasang indovision lagi. Demi playhouse disney. Demi liga Inggris.


Dimas : "Ini apa, om?"
Si Om : "Ini kabel"



Rahasia kue enak : eces Dimas.


Mommie : "lagi ngapain, nak?"
Tole Dimas : "lagi motong ikan paus"



Blue and green. A perfect match.


A small hill behind our home. Setiap merasa capek atau galau cukup memandang kesana...

Foto yang diambil oleh Damar dari tempat kita shalat Eid.


Early morning of Eid this year


You can't see it, but there's a beautiful thin crescent moon in the sky


the final shade of sunset


Kegiatan malam lebaran. Nungguin ember penuh. Great. And after that, night exercise. Good for your biceps.


Lebaran with no water. Back to basic, nggotong ember keluar masuk rumah.


And that's a wrap.
Eid Mubarak, everyone! May God bless us always.

I can hardly open my eyes...so ready to sleep and dream about Jogja.
You can hide now.

Sunday, September 13, 2009

Skygazing

Dini hari ini langit lumayan cerah, so I guess I'll stay awake till sun rises. Kepalaku yang dua hari ini dipenuhi pertanyaan to be or not to be, to do or not to do, rasanya perlu didinginkan.
Being an undecisive person, skygazing has always been a sweet escape to me...

A quick glance to the south.
Ada Fomalhaut, the Lonely Star. Atau Fum Al Hut yang artinya mouth of the fish. Salah satu dari dari empat penjaga surga menurut kepercayaan Persia kuno. Tiga koleganya yang lain adalah Aldebaran di Taurus, Antares di Scorpius, dan Regulus di Leo.
Ke arah kiri atas, Achernar. Akhir an Nahr atau River's End. Si Achernar adalah Alpha Eridani, bintang paling terang di rasinya, adalah akhir dari sungai mistik Eridanus, yang membentang dari kaki Orion di Utara sampai ke Selatan.


Formalhaut dan Achernar (dengan stellarium)

Masuk ke rumah dan keluar lewat pintu belakang, berdiri sendirian di backyard yang gelap menghadap ke northeastern sambil sedikit was-was ngelirik kanan kiri. Dalam hati berdoa semoga ngga ketemu tikus, ular, kecoak ataupun yang suka pake baju putih sambil melayang-layang...*glek!*
Damn, paranoid gara-gara kotak penghasil kuntilanak bernama tipi >.<

Ah, go away you scary thoughts! Shuh!

Sampai mana tadi?
O well, Up up in the sky, first we'll see the old moon, lagi bertamu ke Gemini ditemani oleh Pollux, Castor dan planet merah Mars. Di atasnya Aldebaran dapat terlihat jelas sebagai mata Taurus di Hyades, kepala Taurus yang berbentuk huruf V. Aldebaran atau Al Dabaran artinya adalah The Follower, karena Aldebaran selalu mengikuti Pleiades, bahu dari taurus sepanjang waktu. Pleiades atau the seven sisters, terlihat seperti konstelasi mini yang terdiri dari bintang-bintang yang umpek-umpekan, istilah jawanya. Si bintang tujuh ini disebut juga Kemukus oleh orang Jawa, karena bentuknya yang seperti asap. Berdesakan, dengan 6 bintang yang bisa dilihat dengan mata telanjang. Mereka adalah Alcyone, Asterope (Sterope), Celaeno, Electra, Maia dan Taygete. Plus Merope yang ngga terlihat mata telanjang karena diisukan menikah dengan seorang mortal bernama Sisyphus.
Wew, kayaknya jaman dulu cerita macam inpoteinmen udah ada >.<

Gosip lengkapnya bisa dilihat di sini.


Orion, Taurus (Pleiades & Hyades), Gemini, Auriga, Canis Major dan Canis Minor, Moon and Mars (dengan stellarium)

Okeh, balik ke jalan yang benar.

Ke arah timurnya ada Orion sang pemburu, setia terlihat setiap malam. Rasi bintang ketiga yang kukenali setelah Scorpio dan 'tea pot' sagitarius di langit sore. Orion hanya akan terbit jika scorpio tenggelam. Letaknya pun berseberangan. Katanya, Orion takut akan bisa si Scorpio, musuh bebuyutannya.
Paling jelas dikenali dari dua bintang terang, Betelgeuse (arabic yad Al Jauza : the female on of the middle) dan Rigel (arabic Rijl : kaki), dan tiga bintang di sabuknya, Mintaka, Alnitak ( the belt) dan Alnilam (the string of pearls). Sementara bahu orion ditandai dengan Bellatrix.


Orion Sang Pemburu

Orion atau Lintang Waluku ditemani oleh dua anjing, Canis Major dengan Sirius dan Canis Minor dengan Procyon.
Lebih ke kiri, di langit utara, satu bintang terang bernama Capella di rasi Auriga.



Twingkle twingkle little star
how I wonder what you are...


Ah, Moon -- and Star!

Ah, Moon -- and Star!
You are very far --
But were no one
Farther than you --
Do you think I'd stop
For a Firmament --
Or a Cubit -- or so?

I could borrow a Bonnet
Of the Lark --
And a Chamois' Silver Boot --
And a stirrup of an Antelope --
And be with you -- Tonight!

But, Moon, and Star,
Though you're very far --
There is one -- farther than you --
He -- is more than a firmament -- from Me --
So I can never go!
~ Emily Dickinson


Finally, malam telah berakhir. Benang kusut di kepala belum juga terurai.

Wednesday, September 2, 2009

Malingsial and Malaysians

When so many people from both sides, Malaysia and Indonesia, show their immaturity and shortsightedness, here is a rapper who knows the difference between Malingsial/Indonsial and Malaysians/Indonesians.


Copy My Style Again ~ Saykoji

You copy my style
You copy again
Apa plagiat di negara lo lagi ngetrend?
Ku tetap sabar tetap kau kuanggap friend
But sooner or later i gotta take my stand

Udah bolak balik sampe balik kebolak
Temen gue sampe keselek pas makan kolak
Lagi lagi berulang ulang terus terjadi
Tetangga bikin ulah lagi bikin sakit hati

Suka ngaku ngaku kagak malu malu
Punya indonesia di klaim satu satu
Apa memang kalian yang gak mampu mampu
Buat budaya sendiri efek gak ampuh ampuh

Baca rambu rambu, bangsaku berbudi luhur
Tapi usik terus, reputasi mu masuk kubur
Jujur gue bangga jujur gue bersyukur
Elo ngaku ngaku berarti progress lo mundur

Panas ku bertutur kreasi bicara
Walau sudah jelas identitas ku dijarah
Joe farizal aja bisa minta maap
Masa yang lain kagak nyadar kagak tanggap


You copy my style
You copy again
Apa plagiat di negara lo lagi ngetrend?
Ku tetap sabar tetap kau kuanggap friend
But sooner or later i gotta take my stand

Bukan mo sok nasionalis sombong mengangkat alis
Bukan mo sok gangster bukan sok sadis
Walau lagi ngetop bukan gue sok ngartis
Tapi bales pake lagu paling praktis

Marah marah di internet, udah pasaran
Ngomel ngomel di pasar kagak sabaran
Kaya cacing kepanasan jenggot kebakaran
Rasanya gatel pengen ngasih tamparan

Tapi gue orang nya cinta damai
Walau rasanya sulit untuk santai
Amunisi di samping nyiur melambai
Pakai musik rap ku siap membantai

Memang satu rumpun masih sama melayu
Tapi melayu saykoji keras dan gak kemayu
Selendang rocker ku agak mendayu
Tapi coba ajak gue battle rap ayuk!!

You copy my style
You copy again
Apa plagiat di negara lo lagi ngetrend?
Ku tetap sabar tetap kau kuanggap friend
But sooner or later i gotta take my stand

Salute to Saykoji!

And hatemongers, Stop bashing around.
Your words show the world who you really are.

Stop talking about war!
You know who's going to inherit the world? Arms dealers. Because everyone else is too busy killing each other.
~Yuri Orlov, Lord of War

Friday, June 26, 2009

Heal The World

Michael Jackson.
Damn, he was good! I mean his musics. Lagunya, suaranya, video klipnya...
No comment about the controversy. Who am I to judge...

Salah satu lagu Michael Jackson yang bikin "merinding" adalah Gone Too Soon, soundtrack film 'The Ryan White Story' yang menceritakan perjuangan seorang anak yang terkena HIV Aids saat menjalani perawatan hemofilia dan mengalami diskriminasi. Di Russiaville ( Indiana, AS), Ryan dilarang melanjutkan sekolah karena 117 orangtua (dari total 360 murid) dan 50 guru menandatangani petisi untuk melarang Ryan bersekolah. Orangtua Ryan menempuh jalan hukum dan ketika Ryan diijinkan kembali bersekolah, 151 murid memilih tidak masuk sekolah. Dan sebagai seorang pengantar koran, Ryan juga mengalami penolakan dari orang-orang yang tadinya berlangganan koran dengannya.

Keluarga Ryan akhirnya memilih untuk pindah ketika sebuah peluru ditembakkan ke rumah mereka.
31 Agustus 1987, ketika hari pertama bersekolah di SMA Hamilton Heights (Cicero, Indiana), Ryan akhirnya bertemu dengan lingkungan yang tidak takut untuk menjabat tangannya.

Ryan White meninggal 8 April 1990 (18 tahun), beberapa bulan sebelum kelulusannya.

Gone Too Soon. Like a comet blazing 'cross the evening sky
Like a rainbow fading in the twinkling of an eye
Shiny and sparkly and splendidly bright
Here one day gone one night
Like the loss of sunlight on a cloudy afternoon
Like a castle built upon a sandy beach
Like a perfect flower that is just beyond your reach
Born to amuse, to inspire, to delight
Here one day gone one night

Like a sunset dying with the rising of the moon
Gone too soon.

Dan entah kebetulan atau tidak, waktu membaca tentang Amazon Uprising kemarin, lagu Earth Song lah yang terlintas.
Jadi ceritanya, beberapa waktu yang lalu terjadi Tiananmen-nya Amazon. Alan Garcia didukung oleh perjanjian Free Trade dengan AS membuat ke(tidak)bijakan yang memungkinkan perusahaan asing untuk mengeksploitasi 45 juta hektar (hampir 70% hutan amazon) tanpa persetujuan dari komunitas lokal, dalam hal ini suku Indian Amazon. Untuk melawan korporasi besar (industri kayu, minyak dan pertambangan) dan pemerintah kapitalis, komunitas suku asli Indian yang tidak memiliki senjata dan hampir tak tersentuh listrik menggunakan segala cara yang mereka bisa. Memblokade jalan, menyandera kantor-kantor industri pertambangan, berdemo dengan membawa busur dan panah. "We will fight together with our parents and children to take care of the forest, to save the life of the equator and the entire world.", kata pemimpin mereka.
Respon dari Garcia? Menyatakan kondisi darurat di Amazon dan mengirimkan helikopter militer yang menembak ke arah demonstran. Korban dari aparat dan demonstran berjatuhan.

Hey, what about yesterday
What about the seas, the heavens are falling down
I can't even breathe
What about everthing, I have given you
What about nature's worth, It's our planet's womb
What about animals, We've turned kingdoms to dust
What about elephants, Have we lost their trust
What about crying whales, We're ravaging the seas
What about forest trails, Burnt despite our pleas
What about the holy land, Torn apart by creed
What about the common man, Can't we set him free
What about children dying, Can't you hear them cry
Where did we go wrong
Someone tell me why

What about baby boy
What about the days
What about all their joy
What about the men
What about the crying man
What about Abraham
What about death again

Do we give a damn

Tapi yang ekstraordinary, kali ini korporasi-korporasi itu kalah. Indegenious people yang menang. Kongres Peru mencabut dua undang-undang yang memungkinkan perusahaan pertambangan untuk mengebor hutan Amazon.

Diamond, oil and land for blood...do we give a damn?

Dan tentang rasisme, tentang SARA (reminds me of this stupid presidential campaigns...), ingat video klip dahsyat Black or White?

They Print My Message
In The Saturday Sun
I Had To Tell Them
I Ain't Second To None
And I Told About Equality
An It's True
Either You're Wrong
Or You're Right

So, did we get his messages?
Rest In Peace, bro. Thanks for your music.

Tuesday, June 23, 2009

HOME



20% of the world’s population consumes 80% of its resources.
The world spends 12 times more on military expenditures than on aid to developing countries.

5,000 people a day die because of dirty drinking water.
1 billion people have no access to safe drinking water.

Nearly 1 billion people are going hungry.
Over 50% of grain traded around the world is used for animal feed or bio fuels.
40% of arable land has suffered long-term damage.

Every year, 13 millions hectares of forest disappear.
One mammal in 4, one bird in 8, one amphibian in 3 is threatened with extinction.
Species are dying out at a rhythm 1,000 times faster than the natural rate.
Three quarters of fishing grounds are exhausted, depleted or in dangerous decline.

The average temperature of the last 15 years has been the highest ever recorded.
The ice cap is 40% thinner than 40 years ago.
There may be at least 200 million climate refugees by 2050.

Lets be responsible consumers & think about what we buy, it's too late to be a pessimist.

It's time to come together! What's important is not what's gone but what remains. We know that the solutions are there today, we all have the power to change. So what are we waiting for?

It's up to us to write what happens next... TOGETHER.


I cried today, and not because of some soapy korean dramas.
Mataku mberambangi karena menonton "HOME"nya Yann Arthus-Bertrand.
Film dokumenter ini dimulai dengan terbentuknya bumi. Dan bagaimana bumi berubah begitu cepat dalam tahun-tahun terakhir. You have to watch it to know what I mean.

Film tersebut juga menceritakan tentang hutan Kalimantan yang, dengan kecepatan perusakan seperti sekarang, akan hilang dalam sepuluh tahun ke depan. Hal ini terutama karena pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit.
Contoh perusakan hutan primer yang digantikan untuk hutan industri yang lain adalah hutan eukaliptus di Australia dan Tasmania serta deforestasi Amazon dan hutan Amerika Selatan untuk tanaman kedelai (soybean).
Satu hal yang paling teringat, pernyataan bahwa bagaimana free trade bisa dianggap fair trade, jika satu pihak memanen dengan tangan sementara yang lain dengan mesin.

Menceritakan film ini ke Dewo akan berujung dengan perdebatan "Is global warming a myth?" ^^
Dia lebih berpihak ke Michael Chrichton dengan State of Fear-nya.

Tapi karena :
-menghemat listrik dan air (Sedih juga sejak pindah ke Balikpapan dan mendapatkan listrik di kompleks menggunakan genset. Yang berarti mau pemakaian listrik dikit atau banyak konsumsi bahan bakarnya sama...),
-memilah dan membuang sampah pada tempatnya,
-mengurangi pemakaian plastik (inget untuk mbawa-mbawa tas belanja kalo ke Maxi atau Hero!!),
-membeli sayuran dan bahan pangan lokal (mulai merambah ke brand-brand lokal karena aku mulai milih torabika/kapal api, bukan nescafe walopun nescafe diproduksi di dalam negeri),
sebisa mungkin adalah solusi harian di keluarga kami... perdebatan itu akhirnya jadi kurang begitu penting.

Friday, June 5, 2009

Reminiscing (warning : for mellow minds only)

Balikpapan mendung pagi ini.
Sambil menunggu listrik yang pagi-pagi masih dangdutan berkat maintenance genset aku merapikan tumpukan di bawah meja komputer. Dan menemukan organizer hitam lusuh jaman kuliah.

Di halaman pertama ada catatan kuliah Etika Bisnis Pak Raka "You don't have to cheat to win" dan "There is no right way to do a wrong thing". Atau "If you always confronted with easy choices you don't build a character".
Catatan ini kutulis di balik skrap PTI dengan tabel berisi 'Prefabrikasi', 'Fabrikasi' dan 'Assembly'lengkap dengan CO Saw, Circ. saw, Planner, Jointer, Disc Sand, dan Drill Press-nya... :)

Di halaman-halaman selanjutnya ada beberapa coret-coretan tentang
"asistensi SISPROD-12.30"
"tenis bareng mas ganthang!!"
"PR MI chapt 9-10"
"PR Mankua (2 biji!)->tighten"
"tanding bola 97 vs 98, nonton?"
"April, 30, 2001..HAPPY B'DAY DEAR POEJI...asik, makan-makan!!!"
"May, 7, 2001...a half year!!"

Ah, aku mellow kronis sekarang ^^

Lalu beberapa lirik lagu :
'Dan' SO7, di bagian bawah kertas tertulis July 20, 1999 dan sebuah tempelan kulit kerang yang entah dari mana. Apa dari meru betiri ya?
'With You' Boyzz Bario, July 27 1999. Midnite song ketika belajar di Ciheulang.
'Meniti Pelangi' Andhien, 'Sendiri' Coklat, 'Nada Indah' Glenn, 'Kosong' Pure Saturday, 'We fly so close' Genesis, lagu-lagu KLA..

No wonder i was so messed up back then :)

Sebuah puisi yang kusalin dari buku puisi yang kubaca di perpustakaan British Council di ITB, my comfort zone selain meja-meja di lantai bawah Perpus, lapangan tenis depan SC Timur dan jogging track Sabuga.

Judulnya Night Physician.

I love the moon
sometimes as much as I love the sun.
The moon offers a place to hide-
the night rider who comforts me
when the sun has done with me.

Not always but more often than not
I am not quite sure
if the moon is friend or enenmy;
true, it does offer protection
from the public glare,
but it also locks me in myself,
makes me aware of how unimportant I am
and destroys all those high ideals I had.

That perhaps is where the moon becomes a true friend
for it reminds me of man's equality,
it breaks down fears and prejudices
and restores a man's belief in himself
and in his fellow man.
Night is the healer of the summer wounds
that patches up the sky
in readiness for the day.


Di halaman berikutnya sebuah puisi sisa-sisa patah hati yang kutulis di Jogja, Juni 2000.
Angin menerbangkanku sampai kesana
Alun-alun Suryakencana yang beku
semak-semak edelweiss yang tertidur
jejak setapak yang mengabur

Masih kudengar langkah-langkah kaki kita
berlari, melompati batu demi batu
menempuh satu tanjakan lagi
mencoba mengejar matahari
Lelah kaki, deru detak jantung,
kalah oleh inginku melihat keindahan Tuhan
yang selalu kelihat sambil mengenangmu.

Kita telah disana, sahabat tercinta.
Sungguh, Puncak Gede tak akan pernah seindah itu,
langitnya tak akan berwarna sebening itu,
matahari tak akan kurasakan sehangat pagi itu, 1 Agustus 1999.
Dan dirimu sahabat, tidak akan pernah lagi ada disampingku
seperti saat itu.

Perjalanan yang tidak ada akhirnya.
Dan ketika kita tidak lagi menolah ke belakang
yang kulakukan hanyalah mencoba mencapai puncak-puncak lainnya
menyelesaikan pendakian demi pendakian selanjutnya
dengan hanya berpijak di bumiku sendiri,
tanpa uluran tanganmu.

Dan angin kembali meniup wajah lelahku
menerbangkanku kesana
alun-alun suryakencana yang beku
semak-semak edelweiss yang tertidur
dan jejak setapak yang mengabur.

Geez..As cheesy as one two three ^^

Di bagian Address kubaca nama-nama familiar. Nomor telepon yang kalau ku-dial hampir pasti tidak akan diangkat oleh nama yang sama.

Artanti 022 -2516453
Cristin 022 -2501353
Deddy Wijaya 0274-864131
Erdhani 0274-868833
Estiworo Tyas 022 -2512737
Elis 021 -4714144
Gamet 022 -2509747
Ganthang 022 -2513407
Jupri 022 -6006328
May Sari 022 -6648168
Trisasi 0274-882639
Trisa 022 -2504366
Taryanto 022 -2503102
Wedha 022 -2515842


Di bagian finance, kutemukan post it kuning kecil dengan tulisan :

Kopi Papah 33.000
Makan makan 4.500
nelpon 600



Waktu itu tiap pulang ke Jogja aku selalu menelpon rumah dan nanya apa kopi papah masih ada. Biasanya aku membelikan kopi Arabica kesukaan Papah di sebuah toko kopi tua di daerah ABC. Bapak penjualnya pernah mengijinkan aku dan Papah masuk ke gudang penyimpanan dan pengolahan kopi yang remang dan harum.

Suatu hari kalau ke Bandung aku harus membeli kopi Arabika lagi..

Dan sekarang awan gelap di langit Balikpapan telah berubah menjadi hujan.

Monday, June 1, 2009

Laki-laki Paling Baik

Kasus Manohara Odelia Pinot sedang heboh-hebohnya.
Dan semua orang (termasuk saya ^^) sibuk berkomentar. Ada yang kasihan, ada yang mencela Malaysia, ada yang mengutuk KBRI di Malaysia dan Singapura, ada yang menghina si Ibu, bla bla bla...
Ah, yang penting dia sudah pulang.

Tapi sda beberapa hal yang menjadi pemikiranku.

Pertama, bagaimana kedutaan negara kita melindungi warganya di luar negeri. Sudah menjadi rahasia umum bagaimana buruknya kedubes dalam mewakili kepentingan TKI/TKW di luar negeri. KBRI di Malaysia pernah (atau masih?) menjadi sarang koruptor yang mengambil uang jerih payah pekerja migran kita. Dalam kasus Manohara ini dikatakan KBRI Singapura sempat menolak permintaan tolong Manohara dengan mengatakan "Hari Minggu kami libur, telpon lagi hari Senin."

Kedua, bagaimana institusi pernikahan yang seharusnya menjadi sarana untuk menuju kebaikan dapat berjalan sangat salah. Yaitu ketika agama tidak lagi menjadi pegangannya.

Beberapa contoh kejadian dengan latar belakang agama:

Seorang ustad muda yang sering muncul di infotaiment pernah berbicara di depan kamera "Jika seorang istri mengetahui betapa mulianya kedudukan suami di mata Allah, maka dia tidak akan mau menentangnya".

Seorang suami menghendaki istri untuk memilih antara menemani suami atau orangtua istri yang sedang sakit keras. Hal ini menyebabkan sang Istri memilih menemani suami dan tidak sempat bertemu lagi dengan Ayahnya.

Di mana Islam berperan di kejadian-kejadian di atas?

Dalam pengertianku Islam adalah Sunnah of Love, seperti yang ditulis Hymie Ali di blognya. Dan Tuhanku adalah Tuhan Yang Paling Penuh Kasih Sayang. Karena itu tidak ada manusia yang lebih rendah dari manusia lain. EQUALITY adalah hal yang sangat ditekankan dalam Islam.

Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa :
... Even as the fingers of the two hands are equal, so are human beings equal to one another. No one has any rights, any superiority to claim over another. You are as brothers. O men, your God is One and your ancestor is one. An Arab holds no superiority over a non-Arab, nor a White over a Black person, nor vice-versa, but only to the extent to which he discharges his responsibility to God and man. Only the God-fearing people merit a preference with God.


Dan bahwa belajar adalah kewajiban bagi setiap muslim, baik perempuan maunpun laki-laki. Jadi ketika di suatu sudut dunia ada sekelompok orang yang melarang anak perempuan bersekolah, bahkan menyiram mereka dengan air keras, itu bukan Islam.

Dalam lingkaran kehidupannya, seorang wanita dapat menjadi tiga peran :

1. Sebagai anak perempuan.
Nabi Muhammad mengatakan : 'He who brings up his daughters well, and makes no distinction between them and his sons, will be close to me in Paradise.'

2. Sebagai istri.
'The best from among you is one who behaves best towards his wife.' (Hadith)

3. Sebagai ibu.
Kita semua pernah mendengar bahwa 'Surga ada di telapak kaki ibu' dan bahwa Nabi Muhammad menekankan kata 'Ibu' tiga kali sebelum menyebut kata 'Bapak'. Dan ini berlaku untuk semua, tidak peduli gendernya. Jadi jika ada suami yang menghalangi istrinya untuk berbakti kepada orangtuanya, rasanya itu bukanlah suami yang sebaiknya diikuti dan 'tidak ditentang'. Karena kewajiban seorang istri terhadap suami tidak boleh menghilangkan hak orangtua terhadap anaknya. Begitu juga sebaliknya.

Nabi Muhammad adalah seorang suami yang tidak malu membantu istrinya mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Beliau rela tidur di depan pintu rumah daripada membangunkan istrinya. Dan tidak pernah memaksakan kehendak. Bahwa dalam Islam pekerjaan domestik dan mendidik anak adalah PEKERJAAN. Yang bahkan lebih berat dari pekerjaan di luar rumah.

Jika sudah ada contoh sedemikian jelasnya, kenapa masih terjadi kekerasan dalam rumah tangga? Dan ketika telah terjadi kekerasan dan kriminalitas seperti itu kenapa masih ada yang membela pelaku kekerasan dan menyalahkan korban?
Ketika di dalam rumah sendiri tidak dapat dijalankan syariah yang benar bagaimana syariah dalam konteks yang lebih luas dapat dijalankan?

Anak-anak harus diberi pemahaman sejak dini, bagaimana menghormati orang lain. Anak-anak laki-laki harus mengerti bagaimana menghormati dan melindungi ibu dan saudara-saudara perempuan mereka. Untuk selalu berkata-kata baik dan siap menolong. Dan bagaimana mereka memperlakukan wanita di kemudian hari adalah cerminan perlakuan hormat mereka kepada ibu dan saudara perempuan mereka.

Anak-anak perempuan ditanamkan pentingnya pendidikan dan berpikir mandiri. Bahwa dengan segala kewajiban dan hak-haknya mereka adalah manusia yang sama indah dan mulianya dengan kaum laki-laki. Dan di masa depan mereka tidak akan membiarkan diri mereka diperlakukan tidak baik oleh siapapun juga.

Jadi, next time ada yang menyakiti atau memaksakan kehendak kepada istrinya, orang itu pasti lupa bahwa laki-laki termacho, teristimewa, terbaik adalah laki-laki yang paling lembut dan paling sayang terhadap keluarganya...
Sebaliknya, perempuan yang paling baik juga yang paling sayang sama suami dan anak-anaknya ^^

Ini adalah sebagian percakapan seorang Bedouin dengan Rasulullah (Khalid ibn al Walîd):

Q: I wish to be the richest man in the world.
A: Be contented, and you will be the richest man in the world.

Q: I'd like to be the most just man.
A: Desire for others what you desire for yourself, and you will be the most just of men.

Q: I want to be the best of men.
A: Do good to others and you will be the best of men.

Walahualam.

Wednesday, May 27, 2009

Living Less



Mungkin aku bukan orang yang sangat tepat untuk bicara living less, hidup hemat atau hidup tidak berlebihan. Banyak sekali orang lain yang mau ngga mau harus begitu. Memutar otak untuk mencukupkan uang yang ada agar gizi anak-anak tetap terpenuhi. Agar uang bulanan bisa bertahan sampai pay day selanjutnya.

Sementara di Oprah ada tayangan tentang Freegan , aku teringat kepada tukang sampah di kompleks Althia Bintaro yang mengambil dan memakan makanan sisa atau cemilan melempem yang kupisahkan dari sampah-sampah yang lain.

Kemudian mataku tertuju pada buku resep yang kubeli minggu lalu. Di sampul buku itu tertulis "MENGHEMAT UANG BELANJA", tapi ketika kubaca ternyata uang belanja yang dibutuhkan untuk masakan di buku itu berkisar antara 50-70 ribuan sehari. Hemat dimananya????

Bagaimana dengan orang-orang yang hidup dengan penghasilan 10-20 ribu per hari?

Satu hal yang lumayan menyenangkan di Balikpapan (menurutku), hidup tidak sekadar berputar di mal. Too much mall in Jakarta. Mal-mal yang ketika masuk membuatku ngga nyaman, bahkan sedikit muak, karena harga makanan dan barang-barangnya menghabiskan gaji sebulan asistenku di rumah. Mal-mal yang kalo kita bersandal jepit dan tidak ber-make up maka kita termasuk makhluk rada langka di mal tersebut. Mal konsumerisme yang di dalamnya kita termasuk ke dalam dunia 'aneh'.
Simpelnya, we’ve become a society of people who define ourselves and others by the stuff we have.
Baju dan tas bermerek yang kita pakai.
Gadget terbaru yang kita punya.
Mobil dan tv termahal yang kita beli.

Work, earn, survive, buy, repeat. And die.

Orang harus membeli untuk terus merasa 'full', dan hal ini dibantu sepenuhnya oleh televisi, majalah, iklan...Butuh membeli untuk merasa "dicintai", "dihargai" dan akhirnya melihat orang lain juga dengan cara yang sama.

Buy more. Need more. More and more.

Apakah 'more' berarti 'better life'?
I don't think so. We don't need expensive stuffs to make us happy.

So, living less. Buat kami berarti :
Lebih sering membuat cemilan sendiri dan mengurangi/menghilangkan jajanan di luar. Sebagian besar cemilan untuk anak-anak yang dijual di toko sebenarnya banyak mengandung bahan yang kurang sehat seperti pewarna, pengawet dan pemanis buatan. Lebih baik menggoreng pisang daripada membelikan taro, cheetos, coklat dll.
Mengurangi menonton tv atau film dan lebih banyak kegiatan bermain aktif atau membaca buku.
Mengurangi pemakaian plastik.
Mengurangi makan di luar dan meneguhkan diri untuk mencoba resep-resep baru di rumah (this weekend, Kimchi!!!^^).
Pantai dan jalan-jalan di sekitar rumah sebagai pengganti mal dan mainan baru.

Ah, kehabisan ide!
Sambil jalan nanti pasti ketemu ^^

They say in this circle of life, don't take more than you give. And aim to give more than you take.

Friday, April 10, 2009

My last post, for a while

Damar, the one with Doraemon pajama on Pajama's Day, the last day at school



Our home at independence day last year...



This tiny yard with its brown frog, green lizard and sometime, smelly little presents from our neighbour's cat...



Our perfect spot to watch this perfect evening Tangerang sky




We're really gonna miss this neighbourhood...

Lately, it's kinda hectic. Two more days before leaving our home at Bintaro.
Tomorrow the moving company will come to pack things up. The kids and I are going to leave Jakarta on Sunday evening.
Gonna miss a lot of things that we'll leave behind...

This is my last post from Jakarta, for a while at least.
My old compie will be sent with other stuffs, so I won't have any PC and internet connection until next month.

We'll see you again when we get there ^^
Thank you and have a great time, everyone!

Monday, March 16, 2009

Just Get Out! (dan sedikit tentang katak dalam tempurung)

Manusia itu kadang seperti katak dalam tempurung, terutama kalo dia berada di lingkungan yang homogen. Apalagi kalo dia adalah bagian dari yang mayoritas.

Waktu SMA, aku pernah mendapati seorang adik kelas yang ngga bisa jadi ketua kelas walo dia mendapat vote terbanyak. Kenapa? Karena dia termasuk yang minoritas. Hal yang sama berlaku dengan posisi ketua OSIS atau ketua-ketua lainnya, kecuali ketua seksi olahraga atau seksi agamanya. Di SMA itu juga aku menghadiri pengajian yang menyatakan bahwa kami berdosa belajar di sekolah negeri "yang campur ikhwan dan akhwatnya". Juga bahwa shalatku tidak akan diterima karena aku tidak memakai jilbab.

Apa SMAku itu sekarang masih seperti itu ya...

11 tahun setelah lulus SMA, banyak hal yang membuka wawasanku walopun aku berkutat di rumah, anak-anak, arisan dan pengajian ibu-ibu :)
Thanks to my hubby, yang rela membayar koneksi Flash dan langganan indovision. Juga sedikit pengalaman selama 4 bulan di tempat lain yang mengubahku jadi minoritas, di Australia.

Terkadang kupikir yang menunjukkan diri kita sebenarnya adalah bagaimana cara kita memperlakukan orang-orang di "bawah" kita. Bukan, maksudku bukan level kita lebih tinggi atau gimana...tapi lebih ke arah orang-orang yang menjadi minoritas, yang kemampuan fisik, ekonomi atau sosialnya lebih rendah, bawahan kita di pekerjaan, dan anak-anak kita.
Apakah kita sering merendahkan atau memarahi mereka.
Bahasa apa yang kita gunakan ketika berinteraksi dengan mereka.
Apakah kita tersenyum dan memandang mata mereka ketika berbicara.
Apakah kita mau mencoba berempati dan menempatkan diri kita di tempat mereka.
Apakah kita memperlakukan mereka dengan adil, like we'd wanted to be treated.

Ketika keluar dari lingkungan 'mayoritas-homogen' kita, akan banyak terlihat hal baru. Bahwa dunia itu bukan hanya berputar di lingkungan kita. Bahwa banyak sudut pandang dan sisi dari hal-hal yang sudah kita take it for granted.

Dan ketika itu terjadi, sudah saatnya kita berhenti melihat judul dan sampul. Berhenti menilai dari nama dan titel. Dan mulai melihat isi, substansi dari semuanya. The lesson for me : Stop generalizing things. Stop stereotyping people. And Start Introspecting.

Keluar dari tempurung. Get out from the cave.

Just Get Out! kutemukan di situs Jews Sans Frontieres (JSF), Jews without borders. Penulisnya, Gabriel Ash, menulis ini tahun 2002 setelah pembantaian Jenin.

Call the army home. Call the occupation off. And get out of the Occupied Territories. Just get out!

Don't mumble about how "difficult" or "complex" the situation is. It isn't. You are the oppressor. You are the occupier. You park your tanks on plundered land. You fill your swimming pools with stolen water. You kill and destroy in order to inherit. So don't bullshit about "the situation." Just get out!

Stop abusing people. Stop abusing language. Stop spinning your own moral cocoon. Stop turning your country and your people into a metaphor of evil. Just get out!

Don't wait for Bush. Don't wait for Arafat. Don't wait to negotiate with the mythical Palestinian leader who will finally accept your dominion. There is nothing to negotiate about. Just get out!

Take your rabid Jewish fundamentalists from Kiriat Arba and Beit El with you. Load them on buses and pump the gas pedal until the hills of the West Bank vanish in the rear mirror. Just get out!

Gather your thugs from the borderless "border police," give them scholarships and send them to school again. Let them discover there is more to life than beating people to a pulp. Just get out!

Take your checkpoints, with all their petty humiliations and deadly snipers, with you. And just get out!

Send the Shin-Bet packing. After 35 years, the world had enough of your clever jailers and torturers. Take them with you and just get out!

Let your hideous bulldozers loose on the illegal settlements of Ma'ale Edomim, Har Homa and Gilo. There is plenty of demolition work for them there. Let them continue until the mountain line bears no more memory of your rape. Then just get out!

Don't apologize. Don't justify. Don't explain. There is nothing left to explain. Honestly. Just get out!

Don't even worry about the thousands of olive trees, symbols of peace, you uprooted. Someone will plant them again.

Just get out!

Thursday, February 12, 2009

Atheist Bus



And this is the bus driver's thought.
This game of theological ping-pong looks set to continue for some time, and should remain not only harmless but also irrelevant, just so long as the Jews, Muslims and Hindus don't join in.

Harmless and irrelevant are not words I'd use to describe another bus that's appeared on the scene during the past few months. This newcomer depicts the actor Daniel Craig in his guise as James Bond. Fourteen feet high he stands, at the rear end of a double-decker, looking immaculate as he loads new bullets into his handgun. He seems laid-back and nonchalant, emptying the spent cartridges on to the ground.

Obviously any driver who objects to being the purveyor of such messages is in the wrong job. Bus drivers aren't meant to have feelings. I've been driving buses in London on and off for 20 years and I don't particularly like the glorification of guns and weapons in ads for movies. But if I refused to drive a bus I'd be failing in my duties. After all, that's what we're paid for.


Bayangkan kalau ini terjadi di Indonesia...sudah bakar-bakaran bis kayaknya.
>,<

Friday, January 30, 2009

"G*#LOK!"

Baru sampai di rumah setelah mengantarkan mbak Yuk ke tempat ngetem angkot dekat Bintaro Plaza. Pulang ke rumah dalam kondisi hujan ditemani Damar yang tertidur di kursi sebelah supir dan Dimas yang nangkring di atas rem tangan. Not safe at all, by the way! Jangan ditiru!

Di sepanjang jalan pergi dan pulang diklakson mulu oleh mobil-mobil di belakangku karena aku beberapa kali ngasih jalan sama pejalan kaki, motor atau mobil yang mau nyebrang.

Di perempatan sebelum Sekolah Internasional Jepang, perempatan dimana lampu lalu lintas seringnya cuman jadi pajangan, aku (yang dalam posisi lampu hijau) hampir menabrak kendaraan-kendaraan dari arah kanan-kiri yang pasti melanggar lampu merah. Dan seorang supir angkot, bapak-bapak berjanggut, dari arah kanan melewatiku sambil berteriak, "GOBLOK!"

Phew.
Wew.
Well.
(Sigh)

Bapak supir angkot yang pasti tidak akan membaca tulisanku ini, semoga Bapak selamat sampai tujuan.
Semoga setoran Bapak tidak seret.
Semoga anak-anak Bapak bisa sekolah dan harga-harga bahan kebutuhan masih bisa dijangkau oleh keluarga Bapak.
Semoga tidak ada laki-laki dewasa yang berteriak "Goblok!" kepada anak perempuan, istri atau ibu Bapak.

Sunday, December 21, 2008

take me away, just for today...

Arghh...
28 years of my life and still
Trying to get up that great big hill of hope
For a destination.


Hehehe, well yeah...i'm not 25 anymore.
Not even close >,<
Ditambah dengan almost 5 yo Damar dan almost 2 yo Dimas...hmmm, bisa ditambahkan 5 tahun ke angka 28 tadi. Kekekekekek....
*But forever young inside...* =P

Mungkin udah 7 taun hibernasi.
Yah, kalo dikurangi masa-masa kembali ngenal chatting dan internet...hmmm, 6 taun deh. Melewati 12 pergantian musim bersama dua beruang kecilku. Dan satu penunggu goa, yang hari ini membuat ngambek modeku absolutelly ON...

Damn you, penunggu goa! Udah janji mau jalan-jalan berburu madu (heeehhh??? beruang suka madu kan?) malah ditinggal maen soccer. Huh...Manaaaa waktunyaaaa????

Hehehehe T.T

Pusing hari ini dan kemarin...mencoba membuat mimpi jadi kenyataan.
membuat niat jadi jalan (when there's will, there's a way thingies).
mencari-cari temen di dunia virtual (karena semua smsku balik dengan kata-kata, "sorry nin, ngga bisa", dan dikatain "get a life,nerd!" sama my known enemy...T.T

Berhubung aku lagi panas, sepanas pemain-pemain Indonesia dan Thailand tadi malam...mending nulis. Mending nyanyi. Mending diam. Time Out!!!!!!

Anak-anak keluar ma Papahnya, jauh-jauh dulu dari kepala berasap ini.
Aku jauh-jauh dari Papahnya, daripada dosa nunjukin muka manyun mulu.
Biarin monitor sayangku ini aja yang salah tingkah hadap-hadapan ma manyunku.

"Smiler never loose, frowner never win" Hehehe...

Phew...
Inget sama tatapan aneh bin bingung sama ibunya ponakanku, ibu mertua, ibuku sendiri, ibunya temen damar, dan ibu-ibu yang lain, ketika mereka denger aku mau ngajak anak-anak ke gunung.
Ngga tau kalo denger akunya yang mau naik gunung...
Disate kayaknya...berhubung daging kurban dah habis >,<

So, here I am.
Belum punya temen. Padahal ada 2 temen natrekk yang mau ke Gede tgl 25 ini.
Juju naiknya lebih dari semalam (disusul Dimas ke Surya kencana ntar aku).
Iqbal qarung? hehehe...rada ga pede mo nelpon...
Masih belum punya alat. Semua kelengkapan perangku jaman sekolah dah entah beristirahat dengan damai dimana.
Arghhh....dimana rental tenda dome ya?
kok ngga nemu yg sreg di net.

And baidewei baswei, dah 2 temen yang komen pagi ini, Gagah dan Juju, kok ngga beli ajah sih...
Jawabanku sama, dah buat susu dan diapers. Kekekekekek...Lebih gak modal dibanding masa kuliah.

Rindu...
Rindu...
Kangen ma semuanya. Perasaan waktu dulu.
Waktu kelima panca indera begitu dibanjiri anugerah Sang Pencipta...Tanah basah, bau hutan, dingin yang menyelinap, air nutrisari yang membasahi kerongkongan yang kering selama pendakian, suara dan tawa teman-teman, John Denver dan Padi, bintang yang seakan bisa diraih jika saja kupanjangkan tanganku (dipanjangin panjaaaaaaanggggggg sekali, baru deh nyampe), bayangan ujung-ujung pohon, punggung yang lengket oleh keringat, carrier yang pelan-pelan nambah berat, dan kaki yang mulai ngadat :)

Sampai di puncak, biasanya menunggu sebentar, in search of sunrise.
Dan menghitung lagi kenikmatan-kenikmatan Ilahi itu...
Sinar matahari pertama di kulit muka, bintang fajar yang mulai menghilang, warna langit dan awan nun jauh disana, pemandangan sekitar yang mulai berwarna, dingin yang mulai menghangat, mengingat orang-orang tercinta di rumah...

I miss you, Pah...
(crybaby, u nerd!)
Hiks...

Dan perjalanan turun.
Perjalanan pulang.
Dulu ada temen di THA yang bilang, "lari aja nin! tapi seimbangkan dan mantapkan tubuhmu" Dan biasanya, kalo itu memungkinkan, aku akan lari. Run, Nin, Run!
Bersama apapun yang ingin kulupakan waktu itu.
Lari dari kenyataan, lari menuju kenyataan.

Perjalanan ke rumah dengan transportasi umum?
Wah, itu panjang lagi ceritanya...hehehe.

Semua keindahan itu, dengan warna, rasa, baunya.
Semoga menambah kemanusiawianku. Dulu dan sekarang.

Semoga suatu saat nanti, Damar dan Dimas remaja dan dewasa dapat merasakannya. Dan menghargainya.




*Sigh...*
So for now let me sing that wonderful Oasis song (pinjem, Bim!)

Just when it falls apart
And when it's time to start
Will you sit down here for another day
And when it's time to be
All the things that we
Are wishing away for another day

Cos in my soul we know where we're goin
We're goin where the grass is green, the air is clean and the good times are growin'
So take me away
Just for today
Cos I'm sat here on my own
I'd like to be
Under the sea
Where they'd probaly need a phone

And just when it falls apart
And just when it's time to start
Will you sit down here for another day

Cos in my soul we know where we're goin
We're goin where the grass is green, the air is clean and the good times are growin'
So take me away
Just for today
Cos I'm sat here on my own
I'd like to be
Under the sea
Where they'd probaly need a phone
I could be you
If I wanted to
But I've never got the time
You could be me
And pretty soon you will be
But you're gonna need a line

Need a line
Need a line
Need a line



You're right,my friend...keep on dreaming.

Friday, December 12, 2008

Starlight Express

It's 13 minutes before midnite.
Dan yang bisa kulakukan cuma memandangi anak-anak dan papahnya malang-melintang di kasur baru Damar. There's no space left for me T.T

Akhirnya terus kutak-katik komputer...
Nemu lagu masa kecil dulu,
jaman suka nonton Star trek dan X Files jaman SMP,
juga soundtrack waktu ngeliatin bintang nun jauh di atas...

I can't help myself!
another mellow moment >,<


Starlight Express

When you good nights have been said
And you are lying in bed
With the covers pulled up tight
And though you count every sheep
You get the feeling that sleep
Is going to stay away tonight.
That's when you hear it coming
That is when you hear the humming of the

Starlight Express, Starlight Express,
Are you real, yes or no?
Starlight Express, answer me yes.
I don't want you to go.

Want you to take me away
But bring me home before daylight
And in the time between
Take me to everywhere
But don't abandon me there
Just want to say I've been.
I believe in you completely
Though I may be dreaming sweetly of the

Starlight Express, answer me yes.
I don't want you to go.
And if you're there
And if you know
Then show me which way
I should go.

Starlight Express, Starlight Express,
Are you real, yes or no?
Starlight Express, answer me yes.
I don't want you to go.